Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Sosial Budaya dan Sٍejarah Jawa Barat Sebagai Daya Tarik Wisata

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila
  • Jawa Barat memiliki potensi pariwisata yang begitu beragam, baik dari sisi produk wisata maupun pasar wisatawan. Dengan alam dan budaya yang dimiliki, Jawa Barat menawarkan berbagai daya tarik wisata. Potensi pasar wisatawan Jawa Barat juga tidak kalah besarnya. Kedekatan Jawa Barat dengan provinsi-provinsi berpenduduk banyak dan sudah berkembang menjadikan Jawa Barat kaya akan sumber pasar wisatawan.
    Produk wisata Jawa Barat memiliki keragaman, baik daya tarik wisata maupun fasilitas penunjang yang didukung jaringan transportasi dan infrastruktur yang terus berkembang sehingga mempermudah aksesibilitas dan kenyamanan dalam berwisata.
    Daya tarik wisata Jawa Barat terdiri dari daya tarik yang bersifat tangible (berwujud), seperti daya tarik wisata gunung, rimba, laut, pantai, sungai (GURILAPS) dan museum. Yang bersifat intangible (tidak terwujud), seperti sejarah, seni, budaya masyarakat tradisional, maupun events (peristiwa pariwisata).
    Masyarakat Jawa Barat yang agamis dan memiliki tatanan serta berbagai ciri warisan budaya khas dan nilai-nilai tradisional yang masih tetap dipertahankan merupakan potensi yang sangat besar bagi pengembangan pariwisata Jawa Barat. Kampung-kampung tradisional, tempat hidup dan tinggalnya masyarakat tradisional Jawa Barat, juga merupakan daya tarik wisata yang tidak kalah menariknya. Perkampungan tradisional di Jawa Barat yang tersebar di 7 (tujuh) Kabupaten mempunyai budaya tradisional yang khas sehingga memperkaya keragaman daya tarik wisata Jawa Barat.
    Kebudayaan Jawa Barat lainnya yang muncul di masyarakat adalah alat musik tradisional yang sebagian besar terbuat dari kayu dan bambu, seperti angklung, pertunjukan kesenian khas Jawa Barat seperti celempungan, upacara pertanian Nyi Pohaci Sanghyang Sri, ujungan, wayang golek, wayang beber, dan wayang kulit. Kerajinan-kerajinan khas Jawa Barat yang sudah dikenal sejak jaman kerajaan bahkan zaman pra sejarah, seperti kerajinan anyaman yang saat ini masih berkembang di Tasikmalaya, gerabah di Purwakarta, batik di Garut dan Cirebon, merupakan warisan budaya yang bernilai tinggi bagi Jawa Barat.
    Jawa Barat juga kaya akan event-event pariwisata yang diselenggarakan di beberapa Kabupaten/Kota setiap tahun, bagi yang termasuk dalam core-event maupun supporting event. Hari jadi kabupaten/kota pada umumnya diselenggarakan setiap tahun di daerah masing-masing yang dimeriahkan oleh pawai, yang dikenal dengan nama pawai alegoris.
    Event-event lainnya yang juga dilaksanakan secara besar-besaran adalah peristiwa peringatan hari-hari besar keagamaan, seperti Muludan (Panjang Jimat) dan Rajaban di Cirebon. Upacara-upacara adat yang terkait dengan mata pencaharian penduduk, seperti Pesta Laut//Nadran di Cirebon, Indramayu, Tasikmalaya, dan Karawang. Upacara Ngarot di Indramayu adalah merupakan upacara memberi air pada sawah yang dilanda kekeringan. Festival Internasional Layang-layang yang diselenggarakan di Pantai Pangandaran merupakan event yang cukup besar dan sangat menarik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Keragaman budaya yang dimiliki masyarakat Jawa Barat ini merupakan potensi yang besar dalam pengembangan pariwisata yang bercirikan lokal, yang dapat memperkuat citra pariwisata Jawa Barat.
    Sejarah tidak hanya mencakup budaya dan proses perkembangan suatu masyarakat, tetapi juga termasuk sejarah pembentukan alam. Sejarah alam Jawa Barat yang dimulai bersamaan dengan terbentuknya Paparan Sunda pada zaman Plestosen (sekitar 3 -10 juta tahun yang lalu) menjadikan jawa Barat kaya akan fosil-fosil hewan purba yang ditemukan di beberapa jalur yang dilalui hewan purba untuk bermigrasi akibat peristiwa alam yang terjadi. Beberapa fosil hewan purba yang sudah ditemukan di Jawa Barat terdapat di Kota Bekasi (fosil tanduk kepala kerbau) dan Kabupaten Ciamis (fosil rahang dan tulang kaki stegodon, fosil taring kuda nil, fosil tulang kaki banteng).
    Sejarah alam lainnya yang juga penting bagi Jawa Barat adalah terbentuknya Danau Bandung akibat letusan Gunung Tangkuban Perahu sekitar 125.000 tahun yang lalu, serta munculnya dataran-dataran tinggi dan rendah di Jawa Barat yang dimulai pada akhir zaman Miosen dan berakhir pada zaman Pliosen. Sejarah alam inilah yang membentuk kondisi fisik alam Jawa Barat pada saat ini.
    Sejarah budaya Jawa Barat tidak kalah menariknya dengan sejarah alam, walaupun pembabakan sejarah budaya Jawa Barat masih terus diteliti lebih lanjut, terkait dengan penemuan arkeologis dalam lima tahun belakangan ini, seperti Candi Jiwa di Karawang dan Candi Bojong Menje di Kabupaten Bandung (Rancaekek), yang berumur lebih tua daripada Candi Borobudur.
    Sejarah budaya Jawa Barat yang dimulai sejak masa prasejarah, 2 juta hingga 2000 juta tahun yang lalu, menjadi daya tarik budaya yang khas, dengan ditemukannya fosil pithecanthropus erectus beserta peralatan hidup nomadennya berupa kapak perimbas di Tasikmalaya dan Ciamis. Peninggalan sejarah budaya Jawa Barat lainnya yang menunjukkan perkembangan dari pola hidup nomaden menjadi pola hidup menetap adalah kubur peti batu di Kuningan serta punden berundak situs Gunung Padang di Cianjur.
    Peninggalan masa sejarah Jawa Barat yang menunjukkan pengaruh Hindu dan Budha yang begitu kuat pada masa itu juga merupakan hal yang sangat menarik. Ditemukannya naskah kuno Carita Parahyangan yang menyebutkan berdirinya Kerajaan Tarumanegara di sebelah barat Sungai Citarum pada tahun 358 M, Prasasti Sanghyang Tapak di Cibadak (Sukabumi), menjadi bukti sejarah kerajaan-kerajaan Jawa Barat. Bukti lainnya yang memperkuat sejarah kerajaan di Jawa Barat adalah Prasasti Tugu, Prasasti Ciaruteun, Prasasti Kebon Kopi, dan Prasasti Pasir Jambu.
    Sejarah penyebaran agama Islam di Jawa Barat juga meninggalkan buku ­buku yang sampai kini masih dipertahankan keberadaannya, seperti bangunan dan kehidupan keraton maupun ragam hias, dan ornamen flora yang menjadi ciri khas seni bangunan Jawa Barat. Keraton-keraton yang merupakan pusat pemerintahan pada masa penyebaran agama Islam di Jawa Barat. Sampai saat ini yang masih memiliki pengaruh cukup kuat di masyarakat adalah Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, dan Keraton Kacirebonan di Cirebon.
    Penggunaan ragam hias seperti sulur, tumpal, dan kepala ayam jantan pada wuwungan atau bubungan atap pada bangunan-bangunan baru, selain menunjukkan ciri khas seni bangunan Jawa Barat, juga diyakini sebagai penolak bala. Ornamen lainnya yang hingga kini masih digunakan adalah “momolo”, yaitu ornamen yang digunakan pada puncak atap bangunan mesjid dan keraton. Momolo merupakan peninggalan pengaruh Hindu pada masa penyebaran islam di Jawa Barat. Momolo diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa dalam cerita Hindu.
    Masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia juga meninggalkan beberapa bukti sejarah di Jawa Barat di Rengasdengklok, Karawang, sebagai salah satu pangkal perjuangan kemerdekaan, terdapat tempat “disembunyikan” sementara dua tokoh pemimpin pejuang kemerdekaan Soekarno dan Hatta menjelang disusunnya naskah proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945 di Jakarta. Tempat berlangsungnya Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1947 dijadikan museum di Kuningan.
    Gedung Merdeka, tempat berlangsungnya Konferensi Asia Afrika pada tahun 1955, saat ini menjadi salah satu museum di Kota Bandung. Peristiwa “Bandung Lautan Api” yang merupakan peristiwa pembakaran daerah (bumi hangus) Bandung Selatan oleh pejuang-pejuang Jawa Barat karena tidak rela daerah mereka diduduki oleh penjajah juga menjadi daya tarik sejarah Jawa Barat.
    Kekayaan sejarah Jawa Barat beserta peninggalannya yang begitu beragam dan khas merupakan potensi yang besar bagi pariwisata Jawa Barat. Pengemasan cerita sejarah melalui interpretasi yang baik dan menarik dapat meningkatkan nilai tambah daya tarik wisata sejarah Jawa Barat dan tentu saja merupakan potensi untuk menjaring wisatawan dalam jumlah yang lebih banyak.

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint