Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Nias dan Nilai-nilai Sosial Budaya (Peninggalan Budaya Megalitikum)

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila

  • Nias dan Nilai-nilai Sosial Budaya (Peninggalan Budaya Megalitikum)



    Sosial, Budaya, dan Arsitektur
    Tano Niha atau “Tanah Manusia” merupakan sebuah pulau kecil seluas 5.625 km2, terletak sekitar 120 Km dari Sumatra Barat, di lingkaran terluar sebelah barat Kepulauan. Pulau Nias, dilepas pantai Sumatra, dikenal dengan rumahnya yang megah dengan gaya arsitekturnya yang khas, jalan-jalan yang berlapis batu berukuran besar, serta kebudayaan megalitik yang kuat. Bangunan besar dengan atap menjulang dan bukaan atap merupakan ciri tersendiri; sebuah tradisi arsitektur yang tidak didapati di bagian lain Nusantara.
    Nias memiliki keunikan budaya yang mengagumkan karena memiliki keagungan upacara adat, arsitektur, seni dan budaya yang luar biasa; kesemuanya itu tertata baik walau pun mereka melakukan hubungan dengan dunia luar.
    Di masa lalu, masyarakat Nias dibagi ke dalam beberapa tingkat kemasyarakatan:
    ·      Pertama, Si Ulu, yaitu raja, kepala adat, termasuk juga kaum bangsawan.
    ·      Kedua, Sato, yaitu masyarakat biasa.
    ·      Ketiga, Sawuyu, yaitu budak.
    Tingkat yang paling tinggi kedudukannya dalam tatanan sosial masyarakat Nias adalah raja. Istilah Si Ulu atau “Penguasa” hanya digunakan oleh raja. Meski kerajaan telah tiada dan sistem kasta telah dihapuskan, pengaruh masa lalu masih terasa kuat hingga hari ini.
    Batu Megalit, Gowo Nias Tengah
    Meja Batu, Nias
    Julukan yang tersemat pada Si Ulu adalah “anak dari surga” atau “titisan dewa bumi”. Permintaan terakhir sang raja sebelum ajal menjemput haruslah dituruti walau emas-emas atau barang beharga lainnya harus dikubur bersamanya.

    Perlindungan bagi Si Ulu dipercayakan kepada para ksatria terbaik di “Tanah Manusia” yang setiap saat selalu dipersenjatai dengan pedang yang dilengkapi gigi buaya dan taring babi. Menurut kepercayaan masyarakat Nias, di atas langit terdapat sembilan tingkatan surga. Pada tingkatan yang paling atas bersemayam Lowalangi, Dewa Surga. Sembilan tingkatan di bawah bumi dikuasai oleh Latura, Dewa Kematian.
    Lowalangi, Dewa Surga, dirayakan dengan mengorbankan hewan yang ditujukan baginya. Persembahan lainnya seperti telur, hasil bumi, tuak, dan air juga sekarang ditujukan bagi roh para leluhur dan alam. Pada saat upacara pemakaman, perhatian khusus diberikan pada kepala suku. Jasad ditempatkan pada sebuah altar dan dicuci dengan daun-daunan wewangian, sehingga diharapkan arwah yang kembali ke rumah dapat dikenali dari wewangian tersebut.
    Nyanyian penguburan dan tari-tarian berlangsung selama empat hari di mana tidak boleh ada kegiatan lain-lain selain upacara tersebut. Pada hari ketiga, jasad mulai dikuburkan dan untuk mencegah arwah yang kembali, maka sebuah patung kayu “Adu” dibuatkan di dekat makam untuk memungkinkan arwah tinggal di dalamnya.
    Pulau ini secara budaya dibagi ke dalam tiga wilayah, yaitu Utara, Tengah, dan Selatan; di setiap wilayah terdapat berbagai macam seni, bahasa, dan adat istiadat. Setiap pemimpin desa ditunjuk oleh majelis desa yang disebut “Orahua”.
    Di masing-masing desa terdapat batu persemayaman (darodaro) yang dibuat untuk menyemayamkan arwah yang telah terpisah dari jasadnya. Tugu ini dipahat dan dihiasi dengan relief dan rupa seperti manusia.
    Batu persemayaman (darodaro), di depan rumah
    Arsitektur rumah di “Tanah Manusia” terkenal dengan fondasinya yang terdiri atas pengaturan rumit tiang tegak agak miring. Bangunan ini dirancang untuk tahan akan guncangan gempa bumi. Hal ini dapat dilihat dari bangunan yang memiliki tingkat kelenturan karena tiangnya tidak dipancangkan ke tanah tetapi bersandar di atas fondasi batu.
    Arsitektur Rumah, Desa Bawomantaluo, Nias
    Rumah-rumah di Nias dibuat dari bahan kayu yang diberi corak seperti kapal perang. Atap yang curam dengan bukaan atap yang dapat dibuka, berfungsi memasukkan sinar matahari ke ruang dalam serta memberikan sirkulasi udara yang baik. Atap ini memiliki kekhasan tersendiri karena tidak ditemukan di bagian Nusantara lainnya. Atap rumah dibangun tinggi dari bahan serat palem, yang kemudian seiring masuknya pengaruh modernitas mulai ditinggalkan dan beralih ke atap seng.
    Rumah kepala suku disebut “omo sebual”. Bangunannya berbeda dengan rumah masyarakat pada umumnya. Hal ini dapat dilihat dari arsitektur rumah dengan banyaknya “piagam” penghargaan perang dan patung di sekitarnya.
    Desa-desa dibangun dalam dua barisan rumah-rumah (kiri dan kanan) dan sebuah ruang kosong di tengah pemukiman sebagai jalan utama “ewali” dengan lantai batu. Tugu batu prasejarah terletak di depan pelataran sebagai tempat berkumpul masyarakat kelas menengah-keatas. Disebut dinding batu “oli batu”, karena tugu-tugu tersebut menunjukkan kelas pemilik rumah sebagai tanda penghargaan jasa masa lalu serta peringatan abadi bagi orang yang mengadakan pesta penghargaan. Batu tersebut merupakan contoh tingkatan sosial di masyarakat desa dalam pendirian menhir “fa’ulu” oleh ketua adat.
    Hak mendirikan tugu ditentukan oleh majelis desa yang anggotanya mempertimbangkan pada dasar-dasar berikut:
    ·      Mokho, yaitu kekayaan;
    ·      Molakhomi, yaitu kepemimpinan;
    ·      Fa’asia, yaitu ketuaan atau umur;
    ·      Onekhe, yaitu kecerdasan atau kemahiran.
    Batu ini terdiri atas bentuk seperti menhir, bangku panjang, dan bangku bundar. Rumah pertemuan umum disebut “bale” terletak di dekat rumah kepala suku yang terletak di seberang lapangan “gorahua newali”.
    Dahulu, ketika masih sering terjadi peperangan dan penyerbuan, desa dilindungi oleh pagar dari tiang bambu runcing dengan selokan yang dalam di belakang pagar. Hal ini tentu saja menjadi benteng pertahanan yang jitu pada masanya. Sebuah pertahan dalam terdiri dari dinding batu tebal dengan satu pintu masuk yang dijaga oleh sebuah rumah jaga.
    Nias Tengah merupakan tempat lahirnya budaya Nias. Di luar desa banyak tersebar patung-patung leluhur atau juga falus yang disebut “edu” yang dilengkapi dengan ukiran yang berbentuk organ seksual dengan maksud untuk kesuburan.
    Para Prajurit Nias berkumpul di depan “omo Sebua” (kediaman pemimpin Desa)
    Rumah-rumah di Nias Utara dibedakan oleh denah lantai dasar yang khas dengan bentuk lonjong. Atapnya terdiri dari struktur yang lebih ringan dengan ruangan bawah atap yang tanpa halangan, yang memungkinkan lantai tingkat di atas sebagai lantai tempat tinggal utama.
    Nias sampai sekarang masih merayakan pesta dengan pertandingan, tari-tarian, dan upacara. Di antara acara yang ada yaitu tarian perang, sebuah pertunjukkan kebudayaan yang spektakuler, kaya akan simbolisme dan warna.


    Lombo Batu, Nias


    Di masa lalu, “lombo batu”, yaitu upacara melompati susunan batu yang tinggi, merupakan sebuah upacara persiapan untuk melakukan penyerangan ke benteng musuh. Sekarang, lombo batu hanya merupakan kegiatan atletis yang menunjukkan kemampuan dan keahlian seseorang.
    Orang-orang di Nias sampai sekarang melakukan kegiatan mematung dan melukis , mengolah logam, memahat ornamen seperti pada emas, perak, kuningan, dan alumunium. Di samping itu, kebanyakan orang-orang di sana hidup dengan mencari ikan, berburu, bertani, dan beternak unggas.

    Pengaruh Eksternal
    Seiring masuknya kepercayaan baru seperti Kristen yang dibawa oleh penjelajah dari Eropa dan Islam yang dibawa oleh para pedagang Timur Tengah dan Asia Selatan, maka simbol-simbol, yang menurut pandangan mereka—orang Kristen dan Islam—merupakan animisme dan dinamisme, mulai dihilangkan. Patung-patung dan peninggalan leluhur dihancurkan dan banyak juga yang dibeli/dicuri oleh para kolektor dari Eropa.
    Inilah kemirisan perjalanan sejarah dan budaya di Nias “Tanah Manusia”. Bukan hal yang mustahil bila kejadian pembredelan kebudayaan di daerah lain bernasib sama dengan Nias: diasingkan, dilarang, bahkan dihancurkan.

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint