Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Korban Metropolitan

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila
  • AJINING DIRI ANA ING LATI

    Lebaran tahun ini memang sudah kita lewati bersama. Para pemudik dari tanah rantaupun satu per satu sudah meninggalkan kampung halamannya masing-masing untuk kembali merantau. Ada banyak suka dan bahagia yang telah dinikmati bersama keluarga, sanak famili dan handai taulan selama berhari raya. Kesempatan berkumpul ini seakan mengukuhkan kembali filosofi mangan ora mangan sing penting kumpul, makan tidak makan yang penting bisa berkumpul. Tentu saja konteksnya adalah sesederhana apapun pakaian, makanan dan segala perlengkapan hari raya kita, namun kebersamaan dalam semangat persaudaraan lebih dari segala-galanya. Silaturahmi telah merekatkan kembali hati yang sempat terpisahkan oleh jarak ruang dan waktu. Berkumpul dengan keluarga adalah satu anugerah kenikmatan hidup yang tiada tertandingi dengan materi apapun.
    Menjalani hari-hari menjelang lebaran, ada satu penggal kisah yang menjadi keprihatinan saya. Alkisah, adalah seorang anak kecil sebut saja namanya Nora. Ia dilahirkan di ibukota sebagai generasi urban. Kedua orang tuanya meskipun asli putra daerah tetapi sudah belasan tahun hidup di ibukota Jakarta.
    Pada suatu senja, Nora bermain sepeda di sekitar pekarangan tetangga tepat di depan rumah tinggal kakek-neneknya. Dengan penuh keberanian, ia menyapa tetangga di seberang, seraya bertanya, “Ini rumah siapa Tante?”
    Sang tetangga menjawab dengan penuh keramahan, “Rumahnya Pak Wiro.”
    Nora bertanya lagi, “Pak Wiro itu kerjanya dimana?”
    “Pak Wiro kerjanya ya di rumah saja”, jawab sang tetangga lurus-lurus saja.
    Lha Pak Wiro itu kantornya dimana Tante?” Nora nampak penasaran.
    “Ya tidak punya kantor, lha wong sudah lama pensiun”, si Tante menanggapi.
    Nora melotot, “ Haaa, tidak punya kantor! Kalau tidak punya kantor pasti tidak punya mobil ya Tante!
    Si Tante hanya melotot keheranan sambil geleng-geleng kepala seakan menjadi tidak paham dengan apa yang baru saja dijawabnya.
    Pada saat saya mendengar kisah inipun, serasa ada sesuatu yang menyesakkan dada. Anak metropolitan semacam Nora memang luar biasa, dalam artian keberanian dan kepercayaan diri untuk berkomunikasi dengan orang yang notabene lebih tua usianya. Bisa jadi menurut ukuran manusia meodern, Nora adalah bocah cerdas karena ia kritis mengajukan pertanyaan menurut logika berpikir yang “lurus”. Tetapi apakah kebenaran logika harus bertentangan dengan nilai etika, dan estetika dalam berbicara?
    Dari penggalan dialog pembicaraan tadi, ada sesuatu yang kurang trep, tidak pas menurut kaca mata adat dan sopan santun, terlebih menurut adat masyarakat Jawa. Bagaimana mungkin seorang bocah memiliki logika berpikir bahwa kalau tidak punya kantor pasti tidak punya mobil, dan terkesan bahwa hal itu merendahkan pihak lain! Pola pikir dan didikan model apakah yang telah diserapnya dari kedua orang tuanya, dari sekolah maupun lingkungan tempat ia dibesarkan.
    Logika menyangkut benar atau salahnya sesuatu, etika terkait dengan baik atau buruk, sedangkan estetika berhubungan dengan indah atau jeleknya sesuatu. Ungkapan bahwa kalau tidak punya kantor pasti tidak punya mobil, bisa jadi benar secara logika. Akan tetapi dari segi baik-buruk, serta indah-jeleknya sebuah ungkapan sudah pasti tidak bisa diterima. Ungkapan itu mengandung kesan perendahan, dan ketidaksopanan seseorang. Di sinilah terdapat kesenjangan antara kebenaran logika, etika, dan estetika!
    Nora memang masih seorang bocah yang sudah pasti masih sangat lugu tentang ungkapannya, terlebih tentang seluk beluk kehidupan. Nora barangkali tidak paham tentang batasan tata krama dalam pergaulan. Akan tetapi inikah gambaran generasi bocah kita? Atau ini gambaran generasi urban yang dididik oleh dunia sinetron yang sembrono di negeri ini, tanpa arahan dan bimbingan orang tua? Bila memang demikian, maka kita secara kolektif harus memikirkan bersama langkah untuk kembali menanamkan budi pekerti yang mulia kepada generasi penerus kita.

    Dari tinjauan kebahasaan saja, para leluhur kita telah mengajarkan bahwa ajining diri gumantung ana ing lati. Artinya bahwa tinggi rendahnya martabat seseorang dapat diukur dari kesopanan tutur kata dan bahasa yang dipergunakan. Hal inilah yang kemudian menjadi dasar digariskannya tata krama dan unggah-ungguh, atau sopan santun dalam berbicara. Prinsip utama dalam berkomunikasi secara lisan bahwa yang muda harus lebih menghormati lawan bicara yang lebih tua, dan sebaliknya yang lebih tua atau dituakan juga harus bisa ngemong dan menyayangi lawan bicara yang lebih muda. Memang konteks penggunaan bahasa, sebagaimana bahasa Jawa dalam tataran tingkatan bahasa krama (sangat halus), madya (tengahan), ataupun ngoko (biasa) barangkali sudah semakin langka dipahami oleh generasi muda. Namun hal inipun tentu saja bukan sebagai sebuah pembenaran akan dilanggarnya prinsip komunikasi lisan bahwa yang muda harus lebih hormat kepada yang tua. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama generasi yang lebih tua terhadap generasi penerusnya.
    Dalam kasus kisah Nora di atas, meskipun si bocah ini dilahirkan di lingkungan urban yang sudah sangat longgar memegang tradisi, apalagi dalam hal bahasa, namun semestinya nilai luhur dan budi pekerti mulia untuk mengerti dan memahami batasan wajar atau tidaknya sesuatu diungkapkan tetap ditanamkan oleh orang tua, dan juga para guru di lingkungan pendidikan formal maupun non formal. Gambaran kisah ini bisa jadi merupakan sebuah cermin betapa masalah tata krama dan budi pekerti menjadi sangat dikesampingkan oleh manusia modern. Dan ini wajib menjadi keprihatinan kita bersama, serta memerlukan perhatian untuk mencari jalan keluar dan memperbaiki keadaan.
    Di sisi lain, lagi-lagi kita mendapatkan gambaran bahwa manusia modern lebih mengutamakan pencapaian kepada hal-hal yang bersifat materialistik untuk mengukur kesuksesan dan keberhasilan hidup. Dengan demikian pangkat, jabatan, uang, motor, mobil, rumah dan materi yang lain adalah indikator yang harus diperlihatkan secara kasat mata. Tidak cukup hanya dengan kondisi yang  sederhana, namun sebisa mungkin semua harus dalam keadaan mewah karena yang serba mewah itu akan mengundang decak kagum dan gumaman wah dari orang lain. Celakanya sikap seperti ini sangat mudah menular kepada generasi muda, terlebih yang masih bocah sekalipun.
    Manusia masa kini cenderung mengejar dunia dari segi fisik semata. Ukuran kepemilikan sesuatu tidak lagi diukur dari skala dan prioritas pemenuhan kebutuhan hidup. Semua dikejar sebagai ungkapan pemuasan nafsu, nafsu ingin dipuji, disanjung, disembah, dikagumi, dihormati, dikatakan kaya, dikatakan pintar, dikatakan sukses dan lain sebagainya. Dan bila nafsu sudah menjadi raja maha diraja, dianggap sebagai tujuan hidup bahkan menjadi tuhan, maka manusia serakah akan menghalalkan segala macam cara, daya dan upaya untuk mencapai keinginannya. Yang haram bisa dihalalkan, yang halal bisa diharamkan, sehingga rusaklah tatanan dan norma kehidupan. Inilah tanda-tanda memudarnya moralitas hidup, dan segera akan diikuti keruntuhan peradaban manusia.
    Manusia sudah tidak lagi menghiraukan hakikat tujuan hidup bahwa kamulyaning urip dumunung ana ing katentremaning ati, kemuliaan hidup terletak di dalam ketentraman hati. Hati nurani adalah pancaran nilai ruhiah ketuhanan. Semakin jauh manusia meninggalkan suara hati nurani dalam setiap aspek kehidupan, maka manusia akan semakin jauh dari rasa ketentraman, rasa kebahagiaan sejati, terlebih lagi jauh dari Tuhan. Dengan demikian manusia akan selalu merasa dikejar-kejar bayangan semu nafsunya sendiri. Apakah dengan demikian manusia akan dapat mencapai rasa bahagia? Sudah pasti jawabnya tidak! Bahkan manusia akan terperosok ke dalam lembah kehinaan karena telah menuhankan nafsu. Manusia menjadi sehina-hinanya makhluk Tuhan yang melebihi kehinaan binatang! Jaman memang semakin edan! Namun sudah tidak tersisakah sedikit nurani manusia untuk tetap memegang martabat hidupnya sebagai manusia?
    Gambaran kisah Nora mudah-mudahan hanyalah setitik noktah korban kehidupan kaum urban di lingkungan metropolitan. Harapan kita semua bahwa masih akan selalu muncul noktah-noktah putih bagi perjalanan hidup yang lebih baik, lebih mulia dan beradab bagi anak cucu dan generasi penerus bangsa ini. Masih akan selalu terbentang jalan untuk memperbaiki keadaan.

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint