Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Problem Krisis Dan Konsep Manajemen Qalbu

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila
  • Problem Krisis Dan Konsep Manajemen Qalbu


    BAB I
    PENDAHULUAN


    A. Latar Belakang Masalah
    “Mana kala kemunduran akhl;ak telah menimpa suatu kaum, laksanakanlah upacara kesedihan dan duka cita” (Syauqi al-Marhum)

    Sejak bangsa Indonesia dilanda krisis ekonomi yang ditandai dengan melemahnya nilai tukar mata uang rupiah terhadap mata uang asing pada pertengahan tahun 1998 silam, keadaan bangsa Indonesia yang baru saja memasuki era tinggal landas menjadi sangat memperihatinkan. Krisis ekonomi yang melanda demikian cepat itu berdampak pada instabilitas politik dan seluruh aspek kehidupan bangsa ini. Arus reformasi yang menntut suksesi kepemimpinan nasionalpun terus bergulir semakin kuat. Ternyata akibat da ri semua kejadian itu berdampak pada rakyat Indonesia sendiri. Rakyatlah yang seolah menjadi tumbal dari semua kejadian di negeri ini, sementara para pejabat, tetap saja hidup dalam kemegahan dan kemewahannya. Para pekerja, karyawan dan para buruh di pabrik-pabrik banyak menerima PHK secara sepihak lantaran beberapa perusahaan dan instansi tempat mereka bekerja gulung tikar, sehingga tingkat pengangguran melonjak begitu drastis, dan tindak kriminalitas semakin merajalela. Keadaan negara kian hari kian bertambah terpuruk, sehingga banyak sekali komponen masyarakat yang kehilangan pegangan hidup. Keadaan semacam ini tampaknya memang tidak mudah untuk diatasi, bahkan membekas hingga saat ini. Barangkali inilah konsekuensi sistem kapitalisme yang dimanifestasikan modernisme.
    Memang, jika kita memperhatikan fenomena kehidupan manusia di era moderen saat ini, kita akan banyak sekali menemukan gejala yang sangat unik mengenai pola hidup yang mereka lakukan. Di dunia barat, belahan dunia yang menjadi simbol modernisme dimana masyarakatnya telah melampaui dan menjangkau kecanggihan teknologi (the post industrial society), suatu komunitas yang telah mencapai tingkat kemakmuran materi sedemikian rupa dengan segala perangkat teknologi yang demikian canggih dan serba otomatis itu, pada faktanya justru sedang dihadapkan pada suatu problematika kehidupan yang sangat serius, yakni hilangnya eksistensi diri sebagai manusia yang sebenarnya

    Ternyata kemajuan teknologi yang sangat pesat itu disamping memiliki segi-segi positif bagi kehidupan manusia seperti efisiensi dan berbagai kemudahan-kemudahan materiil, ia juga memiliki efek dan akses-akses negatif yang dampaknya begitu berpengaruh dan sangat dirasakan umat manusia di era modern. Jawaban-jawaban yang diberikan era modern dengan peralatan teknologinya yang serba canggih justru menyebabkan manusia banyak yang lari dari paham keagamaan yang selama ini mereka pegang. Manusia era modern dalam hal ini telah memasuki babak baru kehidupan mereka yakni The post industrial society, sehingga paham sekulerisme berkembang pesat.

    Bahwa masyarakat modern memang sedang dihadapkan pada persoalan determinasi dan hilangnya eksistensi diri, hal tersebut telah dijelaskan dan diakui sejak lama oleh para filosof dan pemikir sosial baik dari kalangan Muslim maupun non Muslim. Dari dunia Barat tercatat nama seperti G.W.F Hegel (1770-1831), Erich Fromm dengan filsafat cintanya, Karl Marx (1818-1883) dengan teori alienasinya, bahkan juga Nietzche (1844-1900) dengan filsafat eksistensialismenya. Secara umum pendapat dan pemikiran mereka tentang manusia itu tertuang dalam paham humanisme; yaitu suatu paham yang hendak memanusiakan manusia, setelah mereka oleh modernisme sering kali tidak dimanusiakan.

    Sementara itu dari kalangan Islam, mereka mencoba mengangkat tema-tema keislaman sebagai solusi dalam mengatasi problem krisis modernisme. Diantara sebagian pemikir itu tercatat nama seperti S.H. Nasr, Yususf Qardhawi, Fazlur Rahman, dan juga Ali Syari’ati yang secara vulgar mengadopsi istilah humanisme dengan hanya memberi sedikit label keislaman, serta masih banyak lagi para pemikir Islam abad kedua puluh lainnya.

    Disebabkan demikian kuatnya hegemoni dan pengaruh kebudayaan Barat terhadap kebudayaan lainnya di penjuru dunia dengan paham modernismenya tadi, maka dampak modernismepun kemudian tidak hanya dirasakan oleh masyarakat Barat saja. Sepanjang daratan Atlantik hingga teluk Arab, terutama pada puluhan tahun terakhir banyak sekali dijumpai kenyataan-kenyataan berkaitan dengan kebobrokan moral, meskipun kita (bangsa Timur) telah diakui sebagai masyarakat yang bermoral .
    Menurut Qardhawi, essensi yang mendasar dari krisis besar yang dihadapi umat manusia adalah krisis spiritual moralitas dan krisis akhlak. Krisis semacam ini dalam sisi jauhnya akan mengarah pada sektor ekonomi, politik, manajemen, sains dan teknologi. Krisis memang terjadi pada berbagai sisi tadi; akan tetapi intinya berpangkal pada matinya spirit keimanan dan akhlak.
    Ekspresi yang paling nyata berkaitan dengan kasus modernisme adalah munculnya budaya tandingan (counter culture) yang terkenal dengan sebutan post-modernisme . Kemunculan gerakan ini memang banyak dilatarbelakangi oleh ketidakpuasan terhadap modernisme dalam menciptakan dan mengarahkan kehidupan manusia. Modernisme dianggap telah membuat kerusakan. Ia tidak hanya melibatkan penyebaran hegemoni peradaban Barat, urbanisasi, industrialisasi, teknologi dan konsumerisme, tetapi juga melahirkan rasisme, perbedaan kaya-miskin, diskriminasi, pengangguran dan stagnasi .
    Kelahiran posmodernisme menurut Pauline Rosenau sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut: pertama, tidak sabar untuk mendapatkan hasil-hsil dramatis yang dijanjikan oleh ilmu pengetahuan modern. Kedua, perhatian modernisme mulai terarah pada penyalahgunaan ilmu pengetahuan modern. Ketiga, kontradiksi tampak pada antara cara ilmu pengetahuan harus berfungsi dalam teori dengan bagaimana ilmu pengetahuan itu sesungguhnya bekerja. Keempat, keyakinan yang salah bahwa ilmu pengetahuan dsapat menyelesaikan semua masalah abad kedua puluh. Kelima, ilmu pengetahuan modern tidak memperhatikan dimensi mistik dan metafisik dari eksistensi kemanusiaan, dan keenam, ilmu pengetahuan modern tidak pernah memperhatikan aspek normatif dan etika dimana seharusnya aspek-aspek tersebut terkandung dalam ilmu pengetahuan .
    Post modernisme tidak sepaham (dengan modernisme) terutama tentang adanya upaya mereduksi realitas dengan pandangan yang melihat bahwa realitas eksis secara independen dengan metode ilmiah sebagai satu-satunya metode; lalu penolakan modernisme terhadap nilai dan perasaan subyektif; kemudian denngan pengetahuansebagai entitas bebas nilai; dan dengan sentralisassi kualitas dan prediksi sebagai ciri utama ilmu pengetahuan. Inilah beberapa hal yang membedakan modernisme dengan posmodernisme.

    Jika posmodernisme konsisten dengan ciri metodologinya yang menerima segala sesuatu yang marjinal, maka tidak ada alasan bagi posmodernisme untuk menerima metodologi Islam, karena posmo mengakui eksistensi agama-agama dan hal-hal yang dimarjinalkan oleh posmodernisme. Rosenau sendiri menyatakan bahwa ilmu pengetahuan sosial posmo memberikan ruang bagi manusia aktif dan secara sosial sensitif untuk mencari politik posmo baru, agama dan kehidupan secara umum.
    Senada dengan Rosenau, Shweder (1986) memberikan argumentasi bahwa agama, kulltus dan ilmu sihir sekalipun, mempunyai status yang sama dengan rasionalitas ilmu pengetahuan. Rosenau menambahkan bahwa posmo memahami kehidupan kita sehari-hari sebagai suatu yang bersifat intensif berdasarkan pada perasaan, dan hampir sepenuhnya bersifat spiritual.

    Pemahaman posmodernisme atas agama, kekuatan supernatural dan spiritual akan dapat membantu dalam memahami metodologi ilmu pengetahuan Islam, karena paradigma Islam menggunakan agama sebagai salah satu sumber ilmu pengetahuan, disamping dunia nyata sebagai pasangannya .
    Atas dasar inilah kita selanjutnya bisa memahami jalan pikiran para pemikir Islam modern seperti Hossein Nasr, Rahman, Syari’ati dan yang lainnya ketika mereka mencoba menawarkan prinsip-prinsip Islam ke dalam wacana pemikiran dunia Barat untuk dijadikan alternatif bagi pengentasan krisis kemanusiaan modern, di saat mereka (kaum Barat) secara pragmatis melirik wacana ketimuran sebagai alternatif pemecahan problem mereka.

    Nasr misalnya, dengan mendasarkan pada sebuah hadits Nabi yang sangat masyhur di kalangan para sufi: man ‘arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu, ia pertama-tama membandingkan konsepsi manusia antara yang dimiliki tradisi Barat dengan konsepsi manusia menurut Islam sebagai bahan mempertimbangkan ciri tertentu modernisme dan berbagai manifestasinya. Menurut Nasr, kita harus mencari tahu bagaimana manusia modern menghayati dirinya, hubungan dirinya dengan Tuhan, serta apa yang menyusun jiwa dan pikirannya dalam memola dunia modern .
    Dari sini Nasr selanjutnya mensinyalir teori evolusi Darwin sebagai penyebab utama munculnya ide dan gagasan-gagasan sekuler yang disebut dalam bahasa Komaruddin hidayat, amat bernuansa kehilangan visi ke-Ilahiah-an yang begitu merusak agama. Paham metafisika barat menolak sama sekali hal-hal yang bersifat sakral dan menganggap tidak ada realitas lain selain yang profan, akibat teori Darwin tersebut. Nasr dan juga para pemikir muslim lainnya dalam hal ini bertindak sebagai juru bicara bagi umat Islam sendiri maupun bagi dunia Barat. Kepada dunia Barat mereka menyarankan pemikiran Islam yang mereka tawarkan sebagai alternatif nilai dan way of life, sementara bagi kalangan Islam sendiri mereka memberitahukan bahwa Barat tengah mengalami kebangkrutan spiritual.

    Hal serupa inilah yang saat ini sedang diusahakan dan dikembangkan oleh K.H. Abdullah Gymnastiar (lebih populer disapa Aa Gym), seorang da’i muda yang saat ini sedang menjadi fenomena bukan hanya di negeri ini, melainkan juga di manca negara melalui suatu trade mark yang sesungguhnya bukanlah merupakan hal yang baru dalam dunia tasawuf, yakni konsep Manajemen Qolbu (MQ). Hal yang demikian nampak pada isi ceramah-ceramahnya yang cenderung bernuansa sufistik dan spiritualistik . Aa Gym sendiri dalam beberapa kesempatan seringkali menyatakan akan terus memasuki media-media Barat untuk menampilkan citra Islam yang sejuk.

    Tokoh kita yang satu ini memang muncul di saat yang sangat tepat, terutama bagi bangsa Ini.. Saat dimana krisis ekonomi yang berkepanjangan dan eksperimen demokrasi yang limbung pasca tiga dekade kediktatoran, di saat kondisi umat sedang benar-benar membutuhkan pegangan dan ketenangan spiritual. Pendekatan dakwah yang dilakukannya membangkitkan harapan dan percaya diri. Aa Gym muncul seolah sebagai oasis di tengah kultur masyarakat bangsa yang korup dan serakah seperti sekarang.

    Aa Gym pertama-tama memandang bahwa sebenarnya hidup ini adalah untuk berprestasi bagi dunia dan bagi akhirat nanti. Sedang prestasi tidak akan mungkin bisa diraih tanpa adanya sikap disiplin. Dan masalah disiplin adalah masalah karakter. Oleh sebab itu karakterlah yang dianggap sebagai inti segala sesuatu, termasuk yang menyebabkan ketertinggalan umat Islam dalam menjalankan fungsinya sebagai khalîfatullâh fî al-ardh. Untuk itu dibutuhkan nuansa dakwah dan sistem pendidikan inovatif yang dapat menggugah dan mengubah karakter berbagai lapisan masyarakat menjadi lebih positif.

    Inti dari suatu karakter adalah hati (Arab: qalb). Maka mengubah suatu karakter haruslah dimulai dengan upaya mengelola (to manage), meluruskan dan membersihkan (tashfiyyat) hati itu . Membangun karakter diri sendiri, keluarga dan tatanan masyarakat pada lingkup apapun, seluruhnya amat bergantung pada aktivitas hati yang dibuat bersih. Barangkali itulah sebabnya bagi Aa Gym setiap keadaan tidaklah perlu disikapi dengan kekuatan, apalagi kekerasan; namun lebih didasarkan pada sentuhan qalbu. Yakni dengan kekuatan manajemen, konsep dan sumber daya manusia . Sejauh ini, sebagaimana ditulis harian The New York Time edisi Agustus 2002, Aa Gym memang dianggap berhasil menampakkan wajah Islam yang sejuk itu. Skripsi dengan judul: “PERSPEKTIF TASAWUF TENTANG KRISIS BANGSA: Telaah Terhadap Konsep Manajemen Qolbu (MQ) (Studi Kasus Pada Jamaah Daarut Tauhiid)” ini akan mencoba menganalisa sejauh mana dedikasi dan konstribusi konsep MQ dalam memberikan solusi bagi problem krisis berkepanjangan yang sedang dihadapi bangsa kita hingga saat ini.

    B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

    Sebagai bentuk kata benda (nouns) kata krisis memang dapat dinisbatkan untuk merujuk berbagai keadaan di berbagai bidang. Ia dapat digunakan pada bidang ekonomi, kedokoteran, kebudayaan atau bidang sastra. Oleh karena itu dalam penelitian in penulis akan membatasi pemakaian istilah krisis tersebut untuk merujuk bidang moral. Yakni sumber utama dari segala krisis di semua bidang tersebut menurut perspektif agama (tasawuf), dengan memfokuskan telaahannya pada konsep Manajemen Qolbu (MQ) yang digagas Aa Gym.

    Agar pembahasan skripsi ini menjadi lebih terarah dan komprehensif, penulis akan merumuskan permasalahan yang akan dibahas sebagai berikut: a. latar belakang ide MQ, b). hubungannya dengan konsep tasawuf pada umumnya tentang qalbu, c. perbedaan dan persamaan konsep MQ dengan konsep tasawuf pada umumnya, dan d. sejauh manakah efektivitas konsep MQ dalam membentuk karakter para jamaahnya.

    a.Hipotesis
    Dari perumusan masalah di atas dapat dikemukakan hipotesis sebagai berikut:
    H 1: Semakin mendalam pengetahuan seseorang tentang konsep MQ, akan berakibat positif pada karakter dan perilakunya, demikian pula sebaliknya. Jadi terdapat korelasi positif antara konsep MQ dengan perilaku sehari-hari.
    H 2: Kharisma dan keteladanan kiai mempengaruhi paradigma seseorang dalam memahami konsep MQ.

    C. Tujuan Penulisan
    Tujuan penulisan ini adalah:
    1.mengetahui latar belakang konsep MQ sebagai solusi yang ditawarkan Aa Gym berkaitan dengan kondisi krisis berkepanjangan yang menimpa bangsa Indonesia; bagaimana konsep ini bisa lahir, bagaimana hubungan konsep ini dengan konsep para sufi pada umumnya tentang qalbu, dan sejauh manakah efektivitas konsep MQ dalam memberikan solusi bagi penyelesaian krisis bangsa.

    2.Sebagai sumbangan pemikiran dalam bentuk skripsi untuk memperluas dan menambah khazanah kepustakaan Islam, juga untuk menambah wawasan baru bagi masyarakat pada umumnya mengenai pentingnya menjaga hati.

    3.Untuk memenuhi persyaratan dalam menyelesaikan tugas akademis guna mencapai gelar sarjana filsafat Islam.

    D. Metodologi Penelitian

    1.Waktu dan Tempat Penelitian
    Penelitian ini akan memakan waktu sekitar enam bulan yang terbagi dalam tiga tahapan. Tahap I, bulan Februari hingga Maret 2003 adalah tahap pengumpulan data dan bahan-bahan yang menunjang. Tahap II, bulan April hingga Mei 2003 adalah tahap observasi di lapangan dengan menggunakan angket, wawancara dan studi dokumentasi. Dan tahap III, bulan Mei sampai Juni merupakan tahap pengolahan data dan bahan-bahan yang telah diperoleh di lapangan. Sedangkan tempat penelitian dilaksanakan di pesantren Daarut Tauhiid Bandung yang merupakan tempat eksperimen langsung konsep Manajemen Qolbu (MQ).

    2.Populasi dan Sampel
    Populasi penelitian ini adalah seluruh jamaah Daarut Tauhiid (DT) yang telah diberikan pelatihan Manajemen Qolbu (MQ) di PP. Daarut Tauhiid Bandung, meliputi para peserta program pelatihan MQ dari PT PLN (Persero) Distribusi Jabar dan Banten, peserta pelatihan MQ dari Bank Jabar serta para santri karya dan santri mukim di DT. Mereka adalah orang-orang yang berinteraksi secara langsung dengan konsep MQ; sedangkan sampel penelitian sebanyak 75 orang yang penarikannya dilakukan secara random (acak) proporsional.

    3.Identifikasi Variabel
    Variabel independen (X) dalam penelitian ini adalah konsep MQ yang digagas Aa Gym, dan variabel dependen (Y) adalah sifat-sifat mulia (mahmudah) seperti sikap rendah hati, tawadhu, sederhana, disiplin, sabar, jujur, gigih, kepedulian sosial dan lain sebagainya.

    4.Metode Pengumpulan Data
    a.Penelitian Kepustakaan (library research). Untuk mendukung metode tersebut penulis akan melakukan penelitian kepustakaan. Yakni penelitian terhadap tulisan-tulisan dalam tabloid, jurnal, majalah, surat kabar maupun buku-buku yang terkait dengan pembahasan MQ baik yang ditulis Aa Gym sendiri maupun buku pendukung karya orang lain. Hal ini dilakukan sebagai upaya mendapatkan data-data yang mengandung jawaban atas pokok permasalahan yang telah dirumuskan. Metode semacam ini sering juga disebut “studi dokumentasi”.

    b.Penelitian Lapangan (Field Research). Penelitian lapangan dilakukan dengan mengumpulkan data melalui angket dan wawancara (participant observer). Metode ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai pengelolaan pesantren dan para jamaahnya serta upaya-upaya yang dilakukan guna mengatasi masalah krisis. Angket memuat sebanyak 21 item pertanyaan meliputi latar belakang demografis responden dan efektifitas konsep MQ. Angket diberikan kepada 80 oang responden. Angket yang digunakan adalah angket tertutup dan terbuka yang mencerminkan semua aspek yang akan diteliti.

    Wawancara dilakukan dalam bentuk tidak terstruktur/ lepas dan dapat berubah sesuai dengan kebutuhan. Pertanyaan akan disampaikan kepada informan yang competeble dengan jumlah yang tidak terbatas.

    5.Teknik Analisa Data
    Analisa yang dilakukan dalam penelitian ini dilakukan dengan metode statistik deskriptif melalui analisa tabel distribusi frekuensi, modus dan rerata, kemudian mencari kemungkinan hubungann antara variabel independen (konsep MQ) dengan variabel dependen (sifat-sifat mahmudah)

    E. Sistematika Penulisan
    Untuk lebih dapat mengidentifikasi masalah, pembahasan skripsi ini akan disistematisasikan ke dalam bab per bab dan sub bab.

    Bab I merupakan pendahuluan; meliputi latar belakang masalah, tujuan penelitian, pembatasan dan perumusan masalah, metodologi penelitian dan sistematika penulisan.
    Bab II menjelaskan masalah krisis, terutama yang terjadi di Indonesia, juga konsep MQ. Masalah krisis di Indonesia meliputi definisi krisis pada umumnya dan sebab-sebab terjadinya krisis menurut perspektif tasawuf. Sedangkan konsep MQ sendiri mencakup berbagai pengertian dan istilah tentang qalbu dan konsep MQ dalam beberapa perspektif, mencakup perspektif kaum sufi dan perspektif Aa Gym.
    Bab III membahas tiga figur yang ada di pesantren DT meliputi pesantren DT dan jamaahnya, perjalanan hidup da’i ”Semua Umat” dan kedudukan konsep MQ di pesantren.
    Bab IV membahas secara khusus konsep manajemen qalbu dalam perspektif Aa Gym, dengan melihat kiat dan strategi-strategi yang dilakukan dalam mengatasi masalah krisis tata nilai di negeri ini.
    Dan bab V adalah bab penutup; bab ini mencakup kesimpulan dan saran-saran dari penulis unuk penelitian lebih lanjut.

    BAB II
    PROBLEM KRISIS DAN KONSEP MANAJEMEN QALBU

    A.Krisis di Indonesia
    1.Definisi Isilah Krisis
    Dalam “The new horizon ladder dictionary of the English language” kata krisis (Inggris : crisis) secara umum didefinisikan sebagai : 1). A decisive or extremely important stage in a series or event. (Sesuatu yang menentukan atau taraf yang penting pada suatu seri atau peristiwa). 2). A time of difficulty or danger. ( Masa sulit atau berbahaya)1.

    Menurut tim penulis “Ensiklopedi Indonesia”, kata krisis berasal dari bahasa Yunani yang penggunaannya dapat dipakai di berbagai bidang, antara lain :
    a). Bidang kedokteran. Pada bidang ini krisis berarti titik balik perjalanan penyakit yang menunjukkan bahwa gejala akut pada penyakit berakhir dengan cepat hingga menyebabkan kematian atau kesembuhan.

    b). Bidang ekonomi. Krisis dalam bidang ini berarti kemerosotan hebat dalam kegiatan ekonomi yang menimbulkan depresi. Keadaan seperti ini biasanya terjadi sekali dalam sepuluh hingga sebelas tahun sebagai akibat kepekaan konjungter ekonomi bebas.

    c). Bidang kebudayaan. Dalam bidang ini krisis berarti suatu keadaan dimana suatu kebudayaan tertentu tidak mampu mencari jalan keluar dari kesulitan yang melibatnya2.
    Dari definisi di atas kiranya dapat kita ambil kesimpulan bahwa istilah krisis yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah krisis yang termasuk dalam kategori bidang kebudayaan, yakni krisis moralitas. Di Indonesia masalah krisis sebenarnya bukan hanya mengemukan di era sekarang saja. Pada kurun waktu antara tahun 1953 hingga 1955 istilah krisis sudah sangat populer3. Saat itu istilah krisis melaiese sudah sangat populer. Seperti halnya pada masa sekarang, pada saat itu istilah krisis melekat pada berbagai aspek yang menggambarkan kondisi sosial bangsa; yakni seperti krisis akhlak, kepercayaan, hukum, dan juga krisis sastra.

    2. Sebab-Sebab Terjadinya Krisis: Perspektif Tasawuf

    “……..Indonesia tidak kekurangan orang pintar, fisiknya sehat. Tapi ternyata bangsa ini bangkrut karena orang yang hati nuraninya sakit……….MQ bercita-cita merubah bangsa yang memang sudah berpotensi Islam besar, (potensi—peny.) alamnya banyak, (dan potensi) budaya yang luar biasa. Merubah bangsa harus merubah masyarakat dahulu. Merubah masyarakat harus dari individu, dan individu terdiri dari sebuah kekuatan besar yang disebut dengan hati.”(Ust. Komarudin Chalil, salah seorang pemateri dalam pelatihan MQ)

    Sebagian besar para penggawa kerajaan Mesir di bawah pimpinan raja Qithfir al-Aziz kala itu sama sekali tidak percaya pada ta’wil atas mimpi sang raja yang dikemukakan Nabi Yusuf a.s. perihal krisis yang akan menimpa kerajaan itu selama kurun waktu tujuh tahun dalam jangka tujuh tahun mendatang (Q.S. Yusuf : 54). Mereka sangat membanggakan keadaan negeri mereka kala itu yang sangat makmur, disamping mereka sangat membanggakan fundamental ekonomi dan politik yang telah mereka bangun4.

    Keadaan semacam ini yang terjadi juga pada pemerintahan kita ketika menjelang krisis ekonomi yang menyebabkan krisis multidimensi melanda bangsa kita. Pemerintah orde baru saat itu begitu over confident terhadap dirinya. Tatkala Malaysia dan Thailand diserang dengan krisis moneter yang sebagian diakibatkan oleh ulah para pedagang dan spekulan mata uang, pemerintah Orba merasa percaya diri dengan berlebihan. Para petinggi negara kala itu berkata bahwa Indonesia tidak perlu khawatir terhadap nilai rupiah vis-à-vis dolar AS, karena fundamental ekonomi Indonesia jauh lebih kuat dan sehat dari pada fundamental ekonomi Thailand, Malaysia dan Filipina5.

    Dua ilustrasi di atas menggambarkan dengan jelas bahwa betapapun sesuatu yang menurut persepsi manusia dianggap sebagai suatu kemapanan atau kesempurnaan, pada kenyataannya belumlah tentu demikian. Hal tersebut sekaligus menunujukkan keterbatasan pengetahuan manusia tentang segala sesuatu. Ketika seorang pakar telah menemukan suatu teori tertentu pada masa tertentu, pada dasarnya ia barulah mencapai satu tingkat kemajuan dari pakar pendahulunya, dan di masa mendatang teorinya tadi bisa jadi akan terbantah oleh generasi sesudahnya, karena ketidaksempurnaannya tadi.

    Demikian juga dengan situasi krisis yang hingga saat ini masih sangat dirasakan oleh sebagian besar komponen bangsa ini. Meskipun berdasarkan analisis seorang pakar ekonomi dari Goldman Sach Perancis, Adam Le Mesurier, yang juga didukung oleh pendapat William Belchere, seorang direktur riset JP Morgan Chase Asia di Hongkong, bahwa keadaan ekonomi Indonesia sebenarnya tak tergoyahkan (the unshakable economy)6 yang disebabkan kinerja perekonomian makro Indonesia yang cukup baik belakangan ini, namun kenyataan di lapangan yang dirasakan mayoritas rakyat saat ini adalah situasi yang masih sangat menyulitkan.

    Sampai saat ini belum pernah ada dari kalangan manapun yang bersepakat mengatakan bahwa bangsa Indonesia telah berhasil keluar dari krisis multi dimensi yang melanda sejak tahun 1997. Tesis seorang analis etika sosial Gunnar Myrdal yang mengkategorikan negeri kita sebagai soft state (negeri yang lunak—terhadap korupsi dan tindak sejenisnya) belum terbantahkan. Bangsa kita menurut kriteria Myrdal, masih sangat jauh untuk disebut sebagai bangsa yang tegar (tough state)7. Jika demikian keadaannya, maka jelaslah bahwa problem krisis yang terjadi kini bukanlah semata dari segi ekonomi, melainkan karena faktor psikologis yang dirasakan komponen bangsa ini; yakni bagaimana komponen bangsa ini menyikapi semua peristiwa yang terjadi dengan kebesaran hati dan jiwanya, serta bagaimana mereka memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan selama ini. Jadi pada tataran ini karakterlah yang menjadi tolok ukur etos bangsa. Maka di sinilah peran manajemen qolbu (MQ) menjadi relevan.
    MQ dalam hal ini memberikan spirit bagi seluruh komponen bangsa agar mempunyai kemauan untuk segera merubah paradigma lama yang jauh dari nilai-nilai religius, menjadi paradigma yang lebih memiliki ruhiah-ilahiah, karena masyarakat kita memang sejak dari dulu dikenal sebagai masyarakat yang religius.

    B.Konsep Manajemen Qalbu
    1. Memahami Makna dan Berbagai Istilah Tentang Qalbu
    Dalam ajaran Islam, hati (Arab : al-qalb) mempunyai kedudukan yang sangat penting. Ia merupakan pokok dan menjadi pemimpin yang dipatuhi dalam sistem kerja organ-organ tubuh. Organ-organ lain tubuh bagaikan rakyat yang tunduk pada setiap perintah hati; sebagaimana alam ini tunduk dan patuh pada ketentuan dan hukum-hukum Allah. Hati juga merupakan tempat keberadaan iman, taqwa dan hidayah8.

    Istilah hati (al-qalb) dikenal untuk menyebut dua hal. Pertama, segumpal daging sanubari yang terletak di sebelah kiri dada. Ia adalah daging yang istimewa, di dalamnya terdapat rongga yang berisikan darah yang merupakan sumber dan pusat ruh. Hati dalam bentuk seperti ini juga terdapat pada struktur tubuh binatang. Al- qalb dalam pengertian seperti ini lebih tepat diartikan “jantung”9.

    Pengertian kedua adalah hati yang bersifat rabbani ruhani (ketuhanan dan keruhanian) yang merupakan hakekat manusia. Hati yang seperti ini adalah hakekat spiritual manusia, yaitu yang mengetahui, mengerti dan memahami; dicela, di beri tuntutan dan mendapat perintah (Q.S. al-Ahzab: 5). Hati dalam pengertian inilah yang akan menjadi pembahasan dalam tulisan ini.

    Hati batiniah berfungsi hampir sama dengan hati jasmaniah. Jika hati jasmaniah terletak pada titik pusat tubuh, maka hati batiniah terletak di antara diri rendah (nafs) dan jiwa yang luhur (al-ruh). Hati jasmaniah mengatur sistem fisik, dan hati batiniah mengatur sistem psikis. Hati jasmaniah memelihara tubuh dengan mengirimkan darah segar dan beroksigen kepada tiap sel dan organ di dalam tubuh. Akan tetapi ia juga menerima darah kotor melalui pembuluh darah vena. Demikian pula dengan hati batiniah; hati batiniah (nurani) juga berada dalam siklus yang tetap, yang mengatur arus bolak-balik antara pengaruh ruh yang suci dan jiwa (nafs) yang kotor.
    Oleh karena itulah hati dalam bahasa Arab disebut qalb dari akar kata q-l-b, yang berarti memutar, merubah atau mengganti. Hati mempunyai sifat yang berubah, beralih (munqalib) dari sifat ke sifat9. Ia memelihara jiwa dengan memancarkan kearifan dan cahaya untuk dapat menyucikan kepribadian dan sifat-sifat buruk. Hati memiliki satu wajah yang menghadap ke dunia spiritual, dan satu wajah lagi menghadap ke dunia diri rendah dan sifat-sifat buruk kita10.

    a.Stasiun-Stasiun Hati
    Menurut al-Hakim al-Tirmidzi, seorang guru sufi yang hidup pada abad ke delapan Masehi, hati manusia memiliki empat stasiun : shadr (dada), qalb (hati), fu’âd (hati lebih dalam), dan lubb (lubuk hati terdalam). Keempat stasiun ini mempunyai susunan bagaikan sekumpulan lingkaran. Dada adalah lingkaran terluarnya, hati (qalb) dan hati lebih dalam (fu’âd) berada pada kedua lingkaran tengah, dan inti hati (lubb) terletak pada pusat lingkaran. Keempat stasiun ini bagaikan area yang berbeda dari sebuah rumah. Dada adalah area terluar. Bagaikan pinggiran dari sebuah rumah yang berbatasan dengan daerah luarnya, tempat binatang–binatang buas dan orang-orang asing berkeliaran. Ia adalah perbatasan hati (ruhani) dan dunia (jasmani).

    Hati (qalb) dapat disamakan dengan rumah itu sendiri. Ia dilingkari oleh tembok-tembok dan diamankan dengan gerbang atau pintu pagar yang terkunci. Hanya anggota keluarga dan tamu yang diundanglah yang boleh memasukinya. Sedangkan hati lebih dalam (lubb) adalah kamar terkunci yang menyimpan benda-benda pusaka berharga milik keluarga tersebut. Hanya beberapa anggota keluarga yang memiliki kuncinya.

    Kaum sufi sering menyebut al-qalb dengan sebutan bait al-hikmah (hati yang menghasilkan keikhlasan), bait al-Muqaddas (hati yang berhubungan dengan orang lain), bait al-muharram (hati yang mengenal dan mencintai Allah dan diharamkan selainnya), bait al-‘izzat (kalbu yang sampai pada tingkat al-jama’ ketika seorang dalam kondisi fana manuju Allah, dan al-‘iffah al-mubîn (puncak tertinggi dari kalbu manusia)11.
    Tiap-tiap stasiun hati mewadahi cahayanya sendiri. Dada mewadahi cahaya amaliah dari bentuk praktik setiap agama, hati mewadahi cahaya iman, hati lebih dalam mewadahi cahaya ma’rifat atau pengetahuan akan kebenaran spiritual, dan lubb mewadahi dua cahaya, cahaya kesatuan, dan cahaya keunikan yang merupakan dua wajah Ilahi. Tiap-tiap stasiun juga dikaitkan dengan tingkat spiritual yang berbeda-beda, tingkat pengetahuan dan tempat pemahaman yang berbeda, serta tingkat nafs yang berbeda.

    Robert frager menggambarkan berbagai tingkatan cahaya pada tiap stasiun itu sebagai berikut :
    “Beberapa orang musafir suatu ketika bermalam di suatu rumah yang tidak berpenghuni dan gelap gulita. Di sana mereka menghidupkan lampu untuk kemudian dapat membuka pintu dan jendela agar cahaya rembulan dapat memancar ke dalam rumah itu sebagai cahaya tambahan. Setelah itu para musafir ke luar ke padang pasir, bernaung di bawah cahaya rembulan. Pada saat itu mereka sudah tidak memerlukan lagi cahaya lampu. Fajar kemudian menyingsing menutupi cahaya rembulan hingga akhirnya matahari sampai pada puncaknya dan cahaya pajar tinggal sebatas kenangan bagi mereka”. 17


    Rumah yang gelap tersebut adalah gambaran nafs tirani yang menghalangi seluruh cahaya. Lampu adalah cahaya akal, dan ketika akal mulai meningkat dan digunakan pada pengetahuan tindakan lahiriah, ia ibarat kemunculan rembulan (stasiun shadr). Cahaya iman bagaikan cahaya fajar (stasiun hati), kemudian melalui penglihatan yang diperleh melalui cahaya Tuhan, cahaya tersebut menjadi semakin terang (stasiun fu’âd). Ia kemudian terus semakin terang melalui cahaya kesatuan dan terus mencapai puncak kekuatannya (stasiun lubb).

    b. Antara Hati, Jiwa, Nafs dan akal budi
    Mengetahui dan membedakan keempat istilah ini adalah sangat penting. Sebab pembahasan keempat masalah ini dapat dikatakan sangat jarang bahkan terkadang menjadi rancu. Penjelasan mengenai keempat istilah ini umumnya mengacu pada penjelasan al-Ghazali dalam bab “penjelasan makna jiwa, ruh, hati dan akal pikiran” dari kitab Ihya’ ‘Ulumuddîn. Penulis akan mencoba mengidentifikasi pengertian, nama, batasan-batasan dan simbol-simbol yang digunakan.

    Para filosof, sebagaimana disebutkan oleh al-Razi, berpendapat bahwa secara total manusia terdiri dari tiga elemen jiwa yaitu : pertama nafsu (hasrat) yang biasa dihubungkan dengan hati (liver). Kedua, amarah yang biasa dikaitkan dengan hati (sebagai jantung) dan ketiga, nalar yang lazim dikaitkan dengan otak.

    Ibnu Sina juga menyatakan dalam al-Qanûn-nya bahwa manusia memiliki tiga bagian penting dalam tubuhnya; kalbu (jantung), otak dan hati (liver). Tiga organ pokok ini adalah organ yang menjadi dasar potensi utama bagi tubuh dan dibutuhkan untuk keberlangsungan individu. Jantung menjadi dasar potensi kehidupan, otak menjadi dasar kedua potansi indera dan gerak, dan hati (liver) menjadi dasar potensi bagi transformasi makanan18. Hati dalam pengertian ini bukanlah makna hati batiniah, melainkan hati dalam pengertian jasmaniah.

    Hati, jiwa, ruh dan akal budi, sebagaimana disebut Sa’id Hawwa, terkadang bisa bermakna tunggal. Nama-nama tersebut dapat berubah karena perubahan ruh manusia yang bermacam-macam. Apabila nafsu syahwat dapat mengalahkan ruh, maka ia disebut hawa nafsu (diri rendah menurut istilah Frager). Jika ruh dapat mengalahkan syahwat, ia disebut akal, sedangkan jika penyebabnya adalah rasa keimanan, ia disebut hati. Dan apabila ia mengenal Allah dengan seebenar-benarnya dan melakukan ibadah dengan tulus, maka ia disebut ruh19.

    b.1. Al-Qalb (Hati)
    Sepeti yang telah banyak dijelaskan di muka, kalbu merupakan pimpinan mutlak bagi seluruh tubuh. Ia adalah organ halus yang dapat menerima sinyal-sinyal ketuhanan, dan yang paling penting berkaitan dengan pembahasan manajemen qalbu seperti dikatakan Sa’id Hawwa, ia adalah pusat garapan pendidikan Islam karena ia merupakan lokus ingatan dan pemahaman. Kalbu adalah lokus dimana realitas-realitas dapat dimengerti dan dipahami20.

    b.2. Al-Ruh
    Istilah ruh sebagaimana juga kalbu, merujuk pada dua makna. Makna pertama adalah jisim atau jasad halus yang bersumber dari rongga hati jasmani. Ia tersebar ke seluruh bagian tubuh dengan perantara urat nadi, dan juga tersebar ke aliran-aliran darah dalam tubuh serta ke aliran sumber hidup, sember instink, sumber penglihatan, sumber pendengaran, dan sumber penciuman menuju organnya masing-masing. Ia sama dengan aliran cahaya pelita yang menerangi setiap sisi rumah, sehingga tidak ada bagian rumah yang tidak mendapatkan cahayanya.

    Seperti halnya demikianlah hidup ini. Ia sama dengan cahaya yang liputannya menyebar luas, ruh sama dengan pelita. Aliran dan gerakan ruh dalam batin sama dengan aliran atau perambatan cahaya pelita yang terdapat di setiap sisi rumah dengan bahan pembakarannya yang terbakar. Para dokter menyebut ruh sebagai uap yang sangat halus yang bisa mematangkan panasnya hati21.

    Makna kedua, adalah perasaan halus (lathîfah) manusia yang mengetahui dan mengerti. Ia merupakan perkara dan urusan yang luar biasa, hingga kebanyakan akal dan pemahaman manusia tidak mampu menangkap hakikatnya. Inilah maksud firman Allah : “ Katakanlah, ruh itu termasuk urusan Tuhanku. (Q.S. al-Isra’ :85).

    b.3. al-Nafs (Diri, Ego)
    Nafs memiliki banyak konotasi makna. Namun secara garis besar ia dapat digolongkan menjadi dua makna, yaitu: pertama, cakupan makna dari kekuatan amarah dan syahwat (birahi) dalam diri manusia. Pengertian inilah yang sering digunakan oleh para ahli tasawuf, karena maksud al-nafs menurut mereka adalah dasar cakupan sifat-sifat tercela dari manusia. Hal ini didasarkan pada sebuah sabda Nabi : “Musuh mu yang paling besar adalah nafsumu yang ada di antara kedua lambungmu”. ( H.R. Baihaqi).

    Makna kedua, perasaan halus yang menjadi hakekat manusia. Ia adalah jiwa manusia dan hakikatnya, hanya saja nafs ini dapat berwujud multi dimensi, tergantung keadaan. Mana kala ia masih terkendali, maka ia disebut an-nafs al-muthma’innah (jiwa yang tenteram) seperti firman Allah : “Wahai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridlai-Nya”. ( QS. Al-Fajr : 27-28).

    Bila nafs itu belum sempurna, namun tetap menyerang dan membuka front dengan hawa nafsu, maka nafs yang demikian disebut dengan an-nafs al-lawwâmah (jiwa yang menyesali dirinya sendiri). Sebab nafs tersebut mencerca pemiliknya ketika dia melalaikan pengabdian kepada Tuhannya. “Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri)” (Q. S. Al-Qiyamah : 2).

    Namun bila nafs telah menjauhi pertentangan, tunduk dan taat pada kehendak hawa nafsu dan godaan-godaan setan, nafs itu dinamakan an-nafs al-ammârah bi al-su’ ( nafsu yang menyerah pada kejahatan). Allah swt. berfirman menceritakan istri Al-Aziz : Dan aku tidak membebaskan diku dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan. (QS. Yusuf : 53). Nafsu seperti inilah jenis nafsu dalam pengertian pertama di atas.

    b.4. Akal Budi

    Kadang kala istilah akal dimaksudkan pada ilmu tentang hakikat segala sesuatu, dan ini adalah sifat dari ilmu yang terdapat di dalam hati. Terkadang juga ia dimaksudkan pada ilmu yang mengetahui segala ilmu. Yakni hati yang memiliki perasaan halus.

    Sebagaimana diketahui, setiap orang yang berilmu memiliki sebuah wujud di dalam dirinya sendiri yang independen. Ilmu adalah sifat yang menempati sebuah wujud tersebut dan merupakan sifat yang tiada tersifati. Sedangkan akal adalah sifat orang yang berilmu, atau biasa juga diartikan sebagai tempat pengetahuan22.

    Dalam istilah-istilah keislaman sering dijumpai istilah akal taklifi dan akal syar’i. Akal jenis pertama dimiliki setiap manusia selama dia tidak gila. Akal tingkat ini adalah tingkatan terrendah yang dimiliki oleh seseorang mukallaf dan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban.

    Jenis yang kedua adalah akal syar’i . Akal jenis ini bertempat di dalam hati serta memiliki tingkatan-tingkatan. Manifestasi akal ini yang paling sempurna adalah pengekangan terhadap nafsunya berdasarkan perintah Allah, disamping penyerahan dan pengenalan terhadap-Nya. Jenis akal ini, dan cara mencapai tingkatan akal yang demikian merupakan objek kajian ilmu tasawuf.

    Dari semua uraian di atas jelaslah bahwa hati (dalam pengertian lathîfah) merupakan inti dari semua organ yang ada dalam diri manusia. Ia merupakan inti dari seluruh cahaya kebaikan. Segala usaha pembersihan dalam perjalanan ruhani seperti penyucian jiwa (tazkiyyat/ tashfiyyat al-nafs), penerangan hati (tanwir al-qulũb), maupun konsep manajemen qolbu (MQ) yang akan menjadi topik pembahasan di sini, merupakan usaha awal dalam rangka membersihkan dan menyingkap berbagai tabir yang menutupi cahaya murni yang bersumber dari lubuk hati terdalam (lubb) yang telah dikaruniakan Allah kepada manusia.

    Kemampuan manusia untuk mencapai derajat ma’rifatullah dengan hatinya yang bersih dalam hal ini bagaikan kemampuan manusia untuk menghancurkan benda-benda keras dengan pukulan “tenaga dalamnya”. Dalam keadaan normal manusia memang mustahil dapat melakukan hal-hal semacam itu. Akan tetapi hal itu secara empiris bisa bahkan seringkali terjadi, setelah ia dapat melatih diri sehingga potensi yang memang sesungguhnya dimiliki setiap orang itu berhasil ia peroleh dengan melakukan latihan-latihan tertentu.

    3. Manajemen Qalbu dalam Pespektif
    a.Perspektif Umum Kaum Sufi
    “Jika langit sirri telah bersih dari mendung sitru, maka matahari kesaksian akan terbit dari bintang kemuliaan” (al-Qusyairi)

    Para sufi telah sepakat bahwa satu-satunya jalan untuk mencapai penyaksian Tuhan (musyahadah) adalah dengan kesucian jiwa. Hati manusia merupakan refleksi dzat Tuhan yang suci, dan karena itu hati manusia harus mencapai tingkat kesucian dan kesempurnaan23. Untuk mencapai hal itu setiap muslim haruslah memiliki semangat dan ketekunan yang kontinu untuk dapat sampai dan memperoleh hati yang bening, bersih dan selamat (qalbun salîm).
    Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali, kemuliaan dan keutamaan manusia terletak pada kesiapan manusia untuk mengenal (ma’rifah)24 Allah sang Pencipta. Karena pengenalan manusia kepada Allah itulah manusia memperoleh keindahan, kesempurnaan dan kebanggaan hidup di dunia, dan kelak di akhirat ia akan memperoleh apa yang dijanjikan oleh-Nya.

    Dalam pandangan al-Ghazali, pengenalan manusia terhadap dzat-Nya (ma’rifatullah), adalah melalui hatinya. Hatilah yang dapat mengenal-Nya dan ia pula yang dapat mendekatkan manusia kepada-Nya. Hati juga dapat berinteraksi dengan Allah dan selalu berjalan menuju kepada-Nya. Hati merupakan media penyingkap apa yang berada di sisi-Nya serta yang dimiliki-Nya. Fungsi dari semua anggota tubuh manusia tidaklah lebih dari sekedar pengikut atau pembantu hati dalam upaya menuju kepada-Nya. Hati akan memperoleh kemenangan dan merasakan kesenangan jika selalu dekat dengan Allah sepanjang manusia menjaga kebersihannya. Dalam keadaan lain hati akan menderita dan hilang harapannya jika ia dalam keadaan kotor dan berlumuran najis. Ketaatan dan kemungkaran kepada Allah adalah tingkah laku hati yang terefleksi dalam perbuatan lahir. Kegelapan dan terangnya hati akan menampakkan bekasnya dalam bentuk amal perbuatan baik dan buruk, seperti halnya setiap gelas akan memancarkan apa yang ada di dalamnya25.

    Jika manusia telah mengenal hatinya, berarti dia telah mengenal dirinya. Dan apabila seseorang telah mengenal dirinya sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya. Dan bahwa Allah swt. bersemayam di antara diri dan hati seseorang agar ia dapat menyaksikan-Nya, dapat mengenal sifat-sifat-Nya, mengenal gerak-gerik hati mereka yang berada di antara dua jari Al-Rahman.

    Selain itu manusia juga dikaruniai sifat-sifat ketuhanan seperti senang berkuasa, keistimewaan, otoriter, ingin serba tahu dan yang lainnya. Bersamaan dengan itu ia dikaruniai sifat-sifat binatang seperti emosi dan nafsu syahwat. Kesemua karakter itu terdapat di dalam hati manusia26.

    Dengan demikian dalam diri manusia terdapat empat kombinasi unsur pokok yaitu sifat ketuhanan, sifat setan, sifat kebuasan dan sifat kebinatangan. Empat campuran ini bersenyawa dalam hati, sehingga di balik penampakan luar manusia seakan terkumpul binatang babi, anjing, setan dan orang bijak. Babi diibaratkan oleh al-Ghazali sebagai hawa nafsu, dan anjing diibaratkan amarah; dimana keduanya memiliki kecenderungan berbuat aniaya dan tercela. Setan adalah simbol yang senantiasa mengobarkan hawa nafsu, membangkitkan keberingasan, dan rasa geram yang dimiliki oleh sifat babi dan binatang buas.ia selalu membenarkan tindakan babi dan binatang buas.

    Adapun orang bijak, ia adalah perumpamaan akal manusia yang senantiasa berjuang melawan tipu daya setan serta menyingkap tipu muslihatnya dengan pendangan batinnya yang tajam dan kebijakannya yang tegas. Ia bagaikan seorang manajer dari kedua kekuatan anjing dan babi, sehingga apabila ia berhasil mengelola keduanya dengan baik, maka akan terjadi keseimbangan dan keadilan dalam kerajaan badan, hingga seseorang akan berjalan di atas jalan yang lurus. Maka keberhasilan seseorang dalam mengekang syahwat dan amarahnya itu akan memunculkan sifat-sifat pemberani, dermawan, penolong, pengendali hawa nafsu, sabar, murah hati, tabah, pemaaf, tegar pendirian, ramah, cerdas, berwibawa dan sebagainya27.

    Selain itu hati juga diibaratkan sepeti cermin yang dikelilingi oleh hal-hal potensial yang mengelilinginya. Pengaruh kebaikan akan membuat cermin tersebut semakin bersih, mengkilap, cemerlang dan bersinar. Dengan demikian sinar kebenaran akan terpancar darinya, sehingga hakikat agama akan tersingkap. Mengenai hal ini Nabi bersabda : “ Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi seorang hamba, maka Allah menjadikan hatinya sebagai penasihatnya”.(H.R. ad-Dailami). Dan sabdanya : “ Barang siapa mempunyai penasihat dari hatinya, niscaya ada penjaga dari Allah untuknya.” Hati inilah yang selalu mengingat Allah (Q.S. Ar-Ra’du : 28).

    Sebaliknya pengaruh keburukan bagi hati adalah ibarat cermin yang diterpa asap hitam, sehingga cermin yang pada dasarnya cemerlang itu menjadi menghitam dan pekat, hingga seluruh permukaannya tersekat dari Allah swt. Inilah maksud firman Allah : “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang mereka usahakan itu menutupi hati mereka”. (Q.S. Al-Muthaffifîn :14). Juga ayat : “……….dan kami kunci mati hai mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)” (Al-A’raf : 100).

    Apabila dosa telah bertumpuk-tumpuk, ia akan menutupi hati sehingga hati tidak akan mampu mengetahui kebenaran dan kebaikan agama. Ia akan meremehkan urusan akhirat dan mennganggap penting urusan dunia, hingga ia mencurahkan segala pehatiannya pada urusan dunia. Maimun bin Mahran berkata : “Apabila seorang hamba melakukan suatu dosa, maka noda hitam akan melekat di hatinya. Apabila ia menghapusnya dan bertobat, hati terssbut akan mengkilap kembali. Dan apabila ia mengulanng berbuat dosa, maka noda yang ditimbulkan lebih hitam dari noda lama yang telah terhapus, sampai-sampai ia mampu mengalahkan hatinya”. Pendapat ini diperkuat hadits Nabi : “Hati orang mukmin itu bersih, di dalamnya terdapat pelita yang bercahaya. Sedang hati orang kafir itu hitam seluruh permukaannya”. (H.R. Thabrani dan Ahmad)28.

    Terangnya hati dan kemampuannya untuk melihat (ma’rifah) dapat dicapai dengan berdzikir. Dan dzikir tidaklah mungkin dilakukan kecuali oleh orang-orang yang berakwa. Maka taqwa dalah pintu dzikir, dan dzikir adalah pintu tersingkapnya rahasia-rahasia ilahi (al-kasyf), dan al-kasyf adalah kemenangan terbesar, yaitu pertemuan dengan Allah swt.

    Perbuatan buruk yang diikuti perbuatan baik akan terhapus nodanya, dan tidak menghitamkan hati. Akan tetapi ia akan dapat mengurangi cahaya hati. Hal ini diibaratkan sepeti cermin yang ditiup kemudian diusap, lalu ditiup dan diusap lagi, maka ia tetaplah keruh29.

    Adapun masuknya pengaruh-pengaruh yang muncul di dalam hati, dalam keadaan apapun hanya akan muncul melalui sarana lahir yaitu panca indera, atau melalui sarana batin seperti khayalan, syahwat, amarah, dan akhlak yang terbentuk dari tabiat manusia. Manakala panca indera menangkap suatu objek, kesan yang ditimbulkannya akan membekas di dalam hati. Demikian juga apabila syahwat sedang berkobar lantaran terlalu banyak makan atau karena tabiat syahwat memang kuat, maka bekasnya akan sampai pula dalam hati. Jadi hati itu selalu berubah-ubah dan tepengaruh oleh sebab-sebab tertentu30.

    Dengan demikian menjaga dan memelihara kebersihan hati menjadi sangat penting. Seseorang hendaknya menyibukkan diri menahan serangan-serangan musuhnya (setan melalui was-was). Ia harus betul-betul mengetahui apa yang harus dipersiapkan untuk itu, agar dapat menolak tipu daya setan dan gejolak nafsu. Dari sini diketahui betapa pentingnya berbagai wiridan dan dzikir sebanyak-banyaknya, I’tikaf, khalwat (mengasingkan diri dari hal-hal yang berpretensi maksiat), takhannust (perenungan) dan lainya, sebagaimana Rasulullah melakukannya di gua hira` menjelang wahyu pertama turun31.

    Mengenai berapa jumlah dzikir dan wiridan yang harus dibaca seseorang (sâlik), para guru (mursyid) biasa menyesuaikannya dengan kondisi rohani setiap orang. Keadaan hati yang sangat gelap tentu saja memerlukan lebih banyak dzikir agar ia dapat segera berpindah dari sata khal (kondisi ruhaniah) ke khal berikutnya yang lebih tinggi, hingga ia dapat segera mencapai tingkatan makrifatullah.
    Para pengamal sufisme yang melakukan perjalanan ruhaninya melalui tarekat biasa menyebut usaha menjaga kebersihan, kebeningan dan keselamatan hati ini dengan mujahadah (perjuangan di jalan Tuhan). Al-Hujwiri menyebut bahwa mujahadah adalah usaha bersusah payah dalam melakukan disiplin ibadah yang ketat dan berjuang keras melawan hawa nafsu untuk mencapai musyahadah (penyaksian). Mujahadah adalah bukti kekokohan cinta seorang sufi kepada Yang Satu32.

    b. Perspektif K.H. Abdullah Gymnastiar
    Pembahasan tentang manajemen qalbu memang tidak bisa lepas dari hadits Nabi riwayat Imam Bukhari tentang posisi hati bagi keseluruhan anggota tubuh manusia yang artinya : “Sesungguhnya dalam jasad terdapat segumpal darah. Apabila ia baik, maka seluruh tubuh juga akan baik. Namun apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. Ketahuilah, sesungguhnya segumpal darah itu adalah hati”. Tidak terkecuali bagi K.H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Sebagaimana Imam al-Ghazali, Aa Gym mengannggap bahwa mengurus hati merupakan pekerjaan yang harus diutamakan, mengingat hati adalah raja yang memiliki bala tentara bagi seluruh sistem anggota tubuh. Karena itu menurutnya, tidaklah mungkin kita mengurus anggota tubuh yang lain sedangkan rajanya diabaikan.

    Shalat atau ibadah yang lain tidak akan bisa khusyu’ manakala hatinya tidak khusyu. Manusia tidak akan mungkin dapat menyampaikan sesuatu jika tidak mengetahui ilmu hati. Hati adalah masalah yang paling essensial, karena segala sesuatu akan dimulai dari hati.

    Mana kala hati sudah bersih, maka keakraban dengan Allah akan segera terjalin. Kebesaran Allah tidak dapat ditampung oleh luasnya langit dan bumi, akan tetapi hati manusia yang beriman dapat menampung kebesaran Ilahi33. Akan tetapi menurut Aa Gym, keutamaan hati yang demikian itu perlu ditunjang dengan kecerdasan otak dan kekuatan fisik. Oleh karena itu di pesantren Daarut Tauhiid, ketiga elemen ini benar-benar diprioritaskan semaksimal mungkin34.

    a. Hakikat Manajemen Qolbu

    Manajemen qalbu bagi Aa Gym adalah mengenal dengan baik potensi dan masalah hati untuk selanjutnya dikembangkan kemampuannya secara optimal dan mengeliminir masalah yang timbul akibat kesalahan mengelolanya35.

    Menurut Aa Gym, inti konsep menajemen qalbu adalah memahami diri dengan sebenar-benarnya untuk kemudian mampu megendalikannya melalui hati. Hatilah yang menunjukkan watak dan siapa diri kita yang sebenarnya. Bila hati telah menjadi bersih, bening dan jernih, maka keseluruhan diri kita juga akan menampakan kebersihan, kebeningan dan kejernihan. Hati yang bersih adalah hati yang senantiasa membuat pikiran bekerja efekif lantaran hanya kebaikanlah yang dipikirkannya36.

    Maka apabila hati seseorang telah dibuat bersih atas usaha yang dilakukannya sendiri, ia akan menjadi pusat perhatian segala aktivitas di bumi. Orang yang hatinya dapat dibuat bersih secara otomatis akan membuat gerak-geriknya memiliki magnet yang luar biasa. Sikapnya akan menunujukkan bahwa dia senantiasa sedang diawasi oleh Allah swt., dan totalitas dirinya menapakkan sebuah keadaan bahwa hanya ridho Allah yang ia harapkan. Dalam kaitan ini Aa Gym bersyair yang kemudian didendangkan oleh kelompok nasyid Snada sebagai berikut37 :
    Jagalah hati jangan kau kotori
    Jagalah hati lentera hidup ini
    Jagalah hati jangan kau nodai
    Jagalah hati cahaya ilahi

    Bila hati kian bersih pikiranpun akan jernih
    Semangat hidup nan gigih prestasi mudah diraih
    Namun bila hati keruh batin selalu gemuruh
    Seakan dikejar musuh dengan Allah kian jauh

    Bila hati kian suci tak ada yang menyakiti
    Pribadi menawan hati ciri mu’min sejati
    Tapi bila hati busuk pikiran jahat merasuk
    Akhlak kian terpuruk jadi makhluk terkutuk

    Bila hati kian lapang hidup sempit terasa senang
    Walau kesulitan datang dihadapi dengan tenang
    Tapi bila hati sempit segalanya jadi rumit
    Seakan terus terhimpit lahir batin terasa sakit


    Aa Gym selanjutnya menjelaskan bahwa ada tiga aspek penting untuk dapat menjelaskan konsep praktis Manajemen Qolbu. Pertama, kita memiliki tiga potensi berupa jasad, akal dan qalbu. Hanya dengan qalbu yang bersihlah potensi jasad atau akal itu akan terkendalikan dengan baik. Jasad atau fisik kita tidak dapat mengambil keputusan. Ia hanya menyalurkan hasil proses akal, dan qalbu kita membuat apa yang diwujudkan oleh fisik dan akal kita menjadi bernilai.

    Kedua, potensi kita yang terus diarahkan kepada kebaikan akan menjadi sangat efektif daya gunanya apabila dimulai dari diri sendiri. Seseorang yang menggunakan potensinya dengan prinsip untuk memperbaiki kemampuan dirinya, juga akan bermanfat bagi lingkungannya. Ketiga, keadaan untuk memperbaiki diri sendiri perlu dibiasakan secara kontinu dan konsisten. Hal ini dilakukan dalam rangka menangkal setiap kecenderungan yang akan mengarahkan kita agar berpaling dari kebaikan38.

    Footnote :
    1 The New Horizon Ladder Dictionary of The English Language, (New York: Popular Library, 1969) h. 116.
    2 Ensikloedi Indonesia Vol. IV, (Jakarta : Ichtra Baru –Vaan Hoeve, 1983), h. 1883.
    3 Ibid.
    4 Ali Zawawi dan Saifullah Ma’shum, Penjelasan Al-Qur’an Tentang Krisis Sosial, Ekonomi dan Politik ,(Jakarta : Gema Insani Press, 1999), h. 75.
    5 M. Amin Rais, dalam Didin S. Damanhuri, Pilar-pilar Reformasi Ekonomi Politik: Upaya Memahami Krisis Ekonomi dan Menyongsong Indonesia Baru, (Jakarta: Pustaka Hidayah,1999), h. XV.
    6 Cyrillus Harinowo, Musim semi Perekonomian Indonesia, (Jakarta : Majalah Tempo, Edisi 21-27 April 2003), h.106-107.
    7 Dr. Nurcholish Madjid, Pintu-Pintu Menuju Tuhan, (Jakarta : Paramadina, 1994), h.185.
    8 Dr. Zainun Kamal, Penyakit Hati dan Pengobatan ruhani, (Jakarta: Paramadina,1999, seri KKA ke 147 tahun XIV), h.3.
    9 Said Hawwa, Jalan Ruhani, (Bandung : Mizan, 1996), cet. IV, h.44.
    9 Ibn Manzhur, Lisan al-‘Arab, (Cairo: Daar al-Mishriyah), dalam CD Rom
    10 Robrt Frager,Loc. cit., h. 54. Bandingkan dengan Dr. Zainun Kamal, Op.Cit., h. 2.
    11 Abd. Razak al-Kasyani, Mu’jam al-Isthilahat al-shufiyat, (Cairo : Daar al-Ma’arif, 1984) h. 39 dan 53. semua nama tersebut merupakan nama lain dari ka’bah di masjidil haram. Oleh karena itu banyak para sufi yang menyebut hati sebagai ka’bah karena ia sama-sama disebut sebagai rumah Tuhan (baitullah). Lih. Sachiko Murata, The Tao Of Islam, (Bandung : Mizan, 1996), cet. I, h. 387.
    17 Robert Frageer, Op. Cit., h. 75.
    18 Imam al-Razi, Ruh dan Jiwa: Tinjauan filosofis dalam perspektif Islam, Terj. Mochtar Zoerni, (Surabaya : Risalah Gusti, 2001), cet. II. h.146.
    19 Said Hawwa, h. 48.
    20 Al-Razi, h. 124.
    21 Said Hawwa, h. 45
    22 Said Hawwa, op. cit., h. 47.
    23 Harian Republika, Edisi Jum’at, 2 Mei 2003, h. 18.
    24 Ma’rifah atau ‘irfan adalah bentuk mashdar (kata sifat) dari kata kerja ‘arafa-ya’rifu yang berarti pengetahuan atau pengalaman (terhadap objek batin/gnosis dengan mengetahui rahasianya). Dalam sistem tasawuf sunni, ia merupakan kedudukan (maqâm), atau ada juga yang menyebut sebagai keadaan (khal) tertinggi yang diperoleh seorang sufi. Atau ada juga yang berpendapat bahwa ia berada satu tingkat di bawah al- mahabbah; karena pada umumnya mereka menolak paham kesatuan wujud (wahdah al-wujûd); tingkat kedudukan tertinggi dalam sistem tasawuf falsafi. Lih. Abuddin Nata, MA., Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Rajagrafindo Persada, 2000), cet. III, h. 219-121.
    25 Al-Ghazali, Manajemen Hati, terjemahan KH. A. Musthofa Bisri & Achmad Frenk, (Surabaya : 2002) cet. II, h. 80.
    26 Ibid., h. 113.
    27 Al-Ghazali, Ibid., h. 114. Tampaknya konsep manajemen qolbu (MQ) Aa Gym sangat mengacu atau setidaknya sangat berhubungan erat dengan pembahasan ini. Aa Gym sendiri sangat percaya bahwa apabila seseorang telah menjadi manajer yang baik bagi dirinya (hati), maka ia dengan sendirinya akan menjadi pusat perhatian segala aktivitas keduniaan. Lih. Aa Gym: Manajemen Qalbu II : Hakekat dan Efeknya, dalam Hernowo & M. Deden Ridwan, Loc. Cit., h.230.
    28 Al-Ghazali, h. 120.
    29 Al-Ghazali, Ibid., h. 120-121.
    30 Ibid., 180.
    31 Said Hawa, Loc. Cit., h. 118.
    32 Abdul Hadi WM, Tasawuf Yang Tertindas, (Jakarta : Paramadina, 2001), h. 248. Istilah lain aktivitas penyucian hati di kalangan para sufi yang juga populer adalah “al-Riyâdhah”( secara kharfiah berarti pengolahan); yaitu dengan cara melakukan amalan-amalan ibadah, dzikir, tasbih, tahlil, dan sebagainya sesuai dengan ketentuan al-Qur’an dan hadits. Lih. Yunasril Ali, Pengantar Ilmu Tashawwuf, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987) cet. I, h. 21.
    33 Para pengarang sufi sering kali mengutip hadits qudsi yang artinya : “langit-Ku dan bumi-Ku tidak memeluk-Ku. Namun hati hamba-Ku yang lembut dan sabar dengan imannya benar-benar merengkuh diri-Ku”. Lih. Sachiko Murata, Op. Cit,h. 378.
    34 Hernowo dan M. Deden Ridwan, Loc. Cit.,h. 46.
    35 Ibid., h.48.
    36 Aa Gym, dalam Hernowo & M. Deden Ridwan, Ibid., h.232).
    37Secara bercanda Aa Gym menyebut syair ini sebagai lagu kebangsaan Indonesia II, Aa Gym, Aa Gym Apa Adanya, (Bandung: MQ Publishing, 2003), h. vii.
    38 Op. Cit., h. 228-230.

    Related Posts by Categories

    Makalah
    Skripsi


    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint