Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

MALAM PENGHARGAAN PEDULI BUDAYA

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila
  • MALAM PENGHARGAAN PEDULI BUDAYA
    Yogyakarta memang pantas disebut sebagai kota Budaya. Hampir setiap hari berbagai event dan acara budaya tradisional dan kontemporer terus digelar di berbagai sisi kota dan desa. Penyelenggara tidak hanya oleh masyarakat umum, swasta, kelompok, pribadi, instansi pemerintah, namun juga kolaborasi di antara mereka. Acara kolaborasi budaya yang cukup membuat warna budaya Yogyakarta adalah acara Sabdatama dan Yogya Semesta.
    Acara Sabdatama adalah sebuah acara Dialog Interaktif Budaya yang ditayangkan di Jogja TV setiap hari Senin Pon, malam Selasa Wage menurut penanggalan Jawa. Acara ini digelar perdana pada 6 Maret 2005 dan sampai sekarang sudah berlangsung kurang lebih 4 tahun atau sudah memasuki episode ke-39. Acara Sabdatama sebenarnya merupakan media pengabdian sang raja kepada rakyat dan masyarakat. Berbagai topik berkaitan dengan sosial budaya diangkat dan didiskusikan. Banyak tokoh budayawan yang ikut urun rembug dalam acara tersebut. Demikian pula masyarakat diberi peran aktif untuk ikut menyumbangkan pikirannya.
    Begitu pula acara Yogya Semesta juga mengupas masalah-masalah budaya, seperti aktualisasi makna Babad Giyanti, nilai-nilai Pancasila, filosofi kepemimpinan Jawa, aktualisasi api semangat Kartini, dan sebagainya. Acara ini mulai digelar sejak 17 April 2007 dan dilaksanakan setiap hari Selasa Wage atau malam Rabu Kliwon. Hingga saat ini acara Yogya Semesta yang dipadu dengan Gelar Seni sudah memasuki episode ke-18 dan bertempat di Bangsal Kepatihan Propinsi DIY. Acara ini pun bisa terlaksana berkat kerjasama berbagai pihak, seperti Dinas Kebudayaan Propinsi, Badan Pariwisata, Bank BPD DIY dan masyarakat umum. Yang jelas, acara Yogya Semesta juga banyak melibatkan budayawan, akademisi, praktisi, abdi dalem, dan seabreg profesi lainnya.
    Keterlibatan berbagai pihak untuk memajukan budaya di Yogyakarta tersebut ternyata sangat diapresiasi oleh pihak Kraton Yogyakarta. Beberapa hari yang lalu pihak Kraton Yogyakarta, melalui Sri Sultan Hamengkubuwana X yang sekaligus Gubernur DIY memberikan penghargaan kepada narasumber dan pendukung kedua acara yaitu Sabdatama dan Yogya Semesta. Penghargaan tersebut diterimakan kepada 175 orang yang terbagi dalam 15 kelompok, di antaranya adalah kelompok khusus (tokoh yang sudah meninggal), kelompok kyai, kelompok akademisi, kelompok abdi dalem, dan sebagainya. Acara penghargaan berlangsung di Dalem Wiranegaran, Panembahan, Kraton Yogyakarta pada hari Kamis, 5 Februari 2009 yang lalu.
    Sri Sultan sendiri yang langsung memberikan penghargaan kepada para narasumber dan pendukung kedua acara, antara lain berupa surat kekancingan (surat penghargaan) dan souvenir. Dalam sambutannya, Sri Sultan mengatakan bahwa kegiatan Sabdatama dan Yogya Semesta diharapkan dapat menggali, mengkaji, dan merevitalisasi budaya Yogya yang bermatra semesta. Lebih lanjut beliau juga berharap bahwa program yang sudah berjalan ini tidak hanya menginspirasi pada konsep pemberdayaan, tetapi juga menginternalisasi sampai pada tataran kebijakan publik sehingga dapat mendorong perubahan perilaku masyarakat ke arah yang lebih baik.
    Acara ini juga disemarakkan dengan beberapa pentas seni budaya, seperti tari Bedhaya Sang Amurwabhumi karya HB X yang berdurasi sekitar 30 menit. Tari ini dibawakan oleh 9 penari Kraton, termasuk dari penari generasi tua. Seni tradisi lain yang ikut tampil adalah Tari Cangik yang dibawakan oleh 7 penari muda dengan durasi sekitar 7 menit. Tarian Cangik ini menggambarkan wanita yang sangat energik dan genit dengan gerakan-gerakan lincah, lebih cenderung humor. Dilanjutkan dengan konser musik dan tari Bhineka Tunggal Ika dari SMN dan SMKI Bugisan yang menampilkan beberapa jenis lagu dolanan dan tarian nusantara, seperti lagu suwe ora jamu, gundhul-gundhul pacul, tarian dari daerah Maluku, Aceh, Bali, Aceh, dan Irian. Acara Penghargaan malam itu ditutup dengan lagu Bagimu Negeri bersama-sama.

    Teks dan foto : Suwandi

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint