Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Wisata Sejarah/Cagar Budaya

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila
  • Secara umum potensi wisata sejarah – cagar budaya di Kabupaten Tapanuli Tengah meliputi keindahan situs makam yang berhubungan dengan masuknya agama Islam dan Kristen melalui   Barus – Kabupaten Tapanuli Tengah di Indonesia, makam Pahlawan Nasional Dr. Ferdinand Lumbantobing dan berbagai bukti perjuangan merebut kemerdekaan Republik Indonesia di bumi Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

    • BERBAGAI MAKAM YANG BERSEJARAH BERHUBUNGAN DENGAN PENYEBARAN AGAMA ISLAM DI INDONESIA

     1.       Makam Papan Tinggi di Kecamatan Barus
    Makam Papan Tinggi ini terletak di Desa Penanggahan Kecamatan Barus, berada di atas bukit dan harus menempuh 710 anak tangga. Dari seluruh makam syekh yang ada di Barus ini, makam ini lah yang paling tinggi tempat keberadaannya, yakni bekisar 200 meter diatas permukaan laut (Mdpl).
    Untuk mencapai ke lokasi makam ini, sebelumnya di kaki bukit terdapat pancuran air untuk membersihkan diri atau mengambil air wudhuk. Setelah itu, kita menaiki tangga yang sudah dibuat secara permanen sebanyak lebih kurang 710 anak tangga atau sekitar 145 meter.
    Pemandangan dari bukit pemakaman terlihat panorama yang indah, sekelilingnya adalah hutan bercampur dengan hamparan sawah yang menghijau dan asri. Pemandangan lautan biru juga terhampar menakjubkan yang mengelilingi Kabupaten Tapanuli Tengah terlihat sangat indah



           Makam Papan Tinggi di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah 



     Makam Papan Tinggi dan Sumur Kecil disekitarnya


    Tangga menuju Makam Papan Tinggi

    2. Makam Mahligai di Kecamatan Barus
    Makam Mahligai adalah tempat yang terdapat tumpukan-tumpukan kuburan tua. Lokasinya di Desa Aek Dakka, Kecamatan Barus luasnya ± 3 (tiga) Ha letaknya di atas bukit tidak jauh dari lokasi Makam Papan Tinggi hanya berkisar 3 km. Nama makam Mahligai berasal dari kata ‘Mahligai’ yang sama dengan istana kecil pada zaman dahulu. Kemudian nama tersebut biasa disebut dengan MAKAM MAHLIGAI.
    Di makam Mahligai ini juga terdapat makam Syech Imam Khotil Muazamsyah Biktibai Syech Samsuddin Min Biladil Fansury (dari negeri Fansyuri) dan Syech Zainal Abidin, Syech Ilyas, Syech Samsuddin, serta makam-makam lainnya yang juga disebut-sebut sebagai pengikutnya.

     
    Makam Mahligai di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah


     
     Makam Mahligai di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah

                             Makam Mahligai di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah

    3. Makam Tuan Syech Magdum di Kecamatan Barus
    Makam Tuan Syech Maqdum, jaraknya tidak jauh dari pinggiran  jalan raya, masih di Desa Bukit Patu Pangan, sekitar 500 meter kearah pantai menuju pusat Kecamatan Barus. Untuk menuju makam ini kita juga harus menaiki sekitar 80 anak tangga. Di makam ini juga terdapat makam lainnya yang disebut-sebut sebagai para pengikutnya.
     Luas area pemakaman sekitar 421,18 m2, dengan ketinggian ± 5 meter dari permukaan laut.
     
     Komplek Makam Tuan Syech Magdum di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah

    4. Makam Tuan Ambar di Kecamatan Barus Utara
    Untuk mengunjungi makam Tuan Ambar yang lokasinya sekitar 200 m dari tepi jalan melintasi kebun coklat milik penduduk, di Desa Panangahan Kecamatan Barus Utara. Di komplek makam ini, sepertinya batu nisan yang sudah tidak terbenam lagi yang pernah ditemukan ditempat yang sama atau sekitarnya telah dikumpulkan dan dideretkan. Tidak ada batu nisan yang bertarikh di komplek yang telah dipugar ini dan hanya satu batu nisan yang memuat nama almarhum.

     
     Komplek Makam Tuan Ambar di Kecamatan Barus Utara, Kabupaten Tapanuli Tengah

    5.   Makam Tuan Ibrahim Syah di Kecamatan Barus
    Makam Tuan Ibrahim Syah atau Syech Batu Badan ini terdapat di Simpang Tiga Bukit Desa Patu Pangan, berdekatan dengan Makam Papan Tinggi dan berjarak hanya berkisar 300 meter. Diatas makam ini, ada batu papan yang memanjang dari arah kepala hingga ke kaki, dengan kata lain panjangnya kuburan tersebut diatasnya ada batu untuk menghimpit makam tersebut.

     Menurut ceritanya, makam Ibrahim Syah wafat pada tahun 825 Hijrah, merupakan raja pertama di Barus, beliau wafat karena dibunuh musuhnya dan didalam makam tersebut sengaja dihimpitkan sebuah batu supaya jangan di bongkar orang usil dan iseng.


    Komplek Makam Tuan Ibrahim Syah di Kecamatan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah

    •   MAKAM DAN PRASASTI TENTANG SEMANGAT PERJUANGAN KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA DAN KEPAHLAWANAN NASIONAL

    1.       Makam Pahlawan Nasional Dr. Ferdinand Lumbantobing di Kecamatan Kolang, Kabupaten Tapanuli Tengah



    2.        Batu Ping di Kecamatan Andam Dewi
    Batu Ping merupakan prasasti peringatan perjuangan ALRI Sektor S, Pangkalan Sumatera Utara, Sub Terr. VII Komando Sumatera pada tahun 1945 – 1949. Prasasti ini diresmikan oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (Laksamana Madya TNI Muhamad Arifin pada tanggal 25 April 1991.



     
     Prasasti Batu Ping di Kecamatan Andam Dewi, Kab. Tapanuli Tengah

    3.       Tugu Perjuangan Perang Gerilya Masyarakat Tapanuli di Kecamatan Sitahuis
    Tugu Perjuangan Masyarakat Tapanuli yang berada di Kecamatan Sitahuis Kabupaten Tapanuli Tengah merupakan suatu Monumen Perjuangan Kemerdekaan Nasional yang diresmikan oleh Menko Polkam RI, Jenderal TNI M. Panggabean. 

     


       4.       Prasasti Sejarah Batu Lobang di Kecamatan Sitahuis

    5.        Monumen Perjuangan Oswald Siahaan di Kecamatan Tapian Nauli 
      


    • MAKAM DAN PRASASTI YANG BERHUBUNGAN DENGAN ADAT KEBUDAYAAN

    1. Makam Raja Sasi Hutagalung di Kecamatan Sitahuis

                       
       2.  Monumen Raja Ompu Saritaon Panggabean Gelar Tuan Engal di Kecamatan Sitahuis




    3.  Pusat Penelitian Arkeologi Barus
      Foto dari kiri ke kanan berturut-turut : Wakil Bupati Tapanuli Tengah (H. Syukran Jamilan Tanjung, SE), Bupati Tapanuli Tengah (Raja Bonaran Situmeang, SH, M.Hum), Ketua TP PKK Kab. Tapanuli Tengah (Norma Simatupang), Wantimpres Bidang Pendidikan dan Kebudayaan (Prof. Dr. Hj. Meutia Hatta Swarsono)

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint