Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Surau dan Kehidupan Sosial Budaya Minangkabau

  • Sabtu, 21 April 2012
  • ygw-gila
  • Surau dan Kehidupan Sosial Budaya Minangkabau

    Surau dan Kehidupan Sosial Budaya Minangkabau
    Surau Bagonjng. (Foto: Ervan Nanggalo dalam okiparlin.blogspot.com)
    Minangkabau merupakan salah satu suku yang terdapat di Indonesia yang memiliki kehidupan sosial dan budaya yang khas. Kebudayaan Minangkabau atau Minang tersebar di daerah Sumatra barat, sebagian daratan Riau, Bengkulu bagian utara dan bagian barat Jambi serta negeri sembilan di Malaysia (Wikipidia, 2011).
    Menurut A.A. Navis dalam Wikipidia, menerangkan Minangkabau lebih kepada kultur etnis dari suatu rumpun Melayu yang tumbuh dan besar karena sistem monarki, serta menganut sistem adat yang khas, yang dicirikan dengan sistem kekeluargaan melalui jalur perempuan atau matrilineal, walaupun budayanya juga sangat kuat diwarnai ajaran agama Islam.
    Kehidupan sosial dan budaya masyarakat Minangkabau berkembang di surau karena sisi religiusitas masyarakat Minangkabau tidak dapat kita pisahkan dari kesehariannya. Surau atau musalla/mesjid ini di masyarakat luas, hanya di gunakan untuk tempat beribadah, tapi di masyarakat Minangkabau surau memiliki peran yang cukup banyak seperti belajar mengenai agama, akhlak, pantun, randai dan adat budaya Minangkabau lainnya bahkan di surau jugalah tempat pembentukan pribadi penerus generasi Minang yang siap menanggung bebean dan amanah dikemudian harinya.
    Bila membaca sejarah Minangkabau, maka akan ditemukan Kearifan adat dan budaya Minangkabau yang dilandasi dengan nilai-nilai keislaman telah menjadi ciri khas masyarakat Minangkabau. Maka salah satu falsafah yang dikenal dari masyarakat Minangkabau adalah Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah (ABS SBK), Syara’ mangato, Adat mamakai.
    Falsafah ini seolah-olah telah mengukuhkan eksistensi agama Islam dalam kehidupan sosial masyarakat Minangkabau dan menjadi hal yang tak terpisahkan dalam keseharian masyarakat Minangkabau.
    Tidah heran kalau dulunya masyarakat Minangkabau banyak melahirkan tokoh-tokoh nasional yang berkiprah sampai ke tingkat internasional, itu semua di sebabkan oleh peran surau yang sangat strategis sehingga terbentuklah kepribadian yang tangguh dalam diri masyarakat minangkabau.
    Peranan surau dalam kehidupan sosial dan budaya masyarakat Minangkabau hampirlah hilang. Padahal surau memiliki posisi yang strategis dalam pembentukan karakter masyarakat Minangkabau.
    Terkait dengan fungsi surau pada masa lalu di Minangkabau yang ternyata tidak hanya sebatas tempat ibadah saja, tetapi juga memainkan peranan yang cukup banyak dalam kehidupan sosial kemasyarakatan, maka tak salah kiranya apabila dikatakan surau sebagai salah satu pranata sosial di masyarakat Minangkabau. Pranata yang dikenal sebagai salah satu padanan kata untuk institusi, didefenisikan oleh  Koendjaraningrat sebagai sistem norma khusus yang menata suatu rangkaian tindakan berpola mantap guna memenuhi suatu keperluan   khusus   dari  manusia  dalam masyarakat (Tomi Wardana,2010).
    Surau menyangkut fungsinya sebagai salah  satu atau  bagian  dari  pranata penting dalam masyarakat Minangkabau, telah memainkan peranannya untuk memenuhi berbagai keperluan masyarakat dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Sebut saja fungsi surau sebagai institusi pendidikan dan pengajaran bagi anak-anak remaja di Minangkabau, selain itu surau juga memainkan fungsinya dalam sosialisasi berbagai informasi yang harus di ketahui masyarakat (Tomi Wardana,2010).
    Pengarui globalisasi yang diikuti dengan kemajuan teknologi yang sangat berkembang pesat hingga modernisasi terjadi dimana-mana tidak hanya di kota-kota besar saja, tapi juga sampai ke kota-kota kecil. Dulu masyarakat Minangkabau terlebih generasi mudanya lebih senang meramaikan surau, menghabiskan waktu di surau, tapi sekarang dunia modern telah merubah segalanya.
    Kecanggihan teknologi telah mengalihkan dunia mereka, barang-barang itu lebih mengasikkan ketimbang ke surau. Banyak masyrakat luar yang kecewa sekarang ini, dulu mereka beranggapan masyarakat minang orang yang taat dan patuh adat, sehingga mereka menyekolahkan anaknya ke daerah Minang dengan tujuan anaknya kelak dapat pelajaran tambahan dari segi agamanya karana bergaul dengan masyarakat Minangkabau, tapi sekarang faktanya malah masyarakat Minangkabaulah yang banyak merubah semuanya
    Kalau kita tanya, masih adakah kepribadian yang tangguh itu dalam diri masyarakat Minangkabau? Masihkah pemikiran-pemikiran orang minangkabau itu dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat? Jawabanya tidak, buktinya tidak ada lagi masyarakat minangkabau yang menjadi tokoh nasional, kalaupun ada pasti dulunya beliau sempat merasakan kehidupan surau.
    Mana masyarakat minang yang dulu, yang memegang teguh adat dan agama, yang memiliki pepatah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah” bukankah telah luntur di makan zaman baik dari segi agama maupun dari segi adat pun begitu.
    Tatanan kehidupan masyarakat Minangkabau pun telah bergeser dari adat istiadat yang di bentuk pemuka-pemuka adat terdahulu. Masyarakat Minangkabau tidak lagi menjadikan niniak mamak atau penghulu sebagai panutan dalam kehidupan sosial, alim ulama tidak lagi menjadi tempat bertanya, dan kemenakan pun tidak lagi menjadikan mamaknya sebagai tempat bermusyawarah dalam kehidupan.
    Kita tidak bisa menyalahkan itu semuanya, zaman telah berubah memanglah dulu dan sekarang berbeda, akan tetapi penyesuaian terhadap kondisi dan situasi saat ini yang penting dilakukan oleh masyarakat Minangkabau serta mengarahkan kembali generasi muda Minangkabau kembali ke surau.
    Sekarang bukanya tidak mungkin untuk membentuk kepribadian islami itu dalam diri masyarakat Minangkabau apalagi generasi mudanya, hanya saja peran surau tidak akan mungkin sestrategis dulu lagi. Salah satu upayanya dengan membentuk organisasi yang kegiatannya berlangsung di surau, seperti wirid remaja. Melalui gerakan wirid remaja diharapkan generasi muda Minangkabau akan lebih sering berada di surau, dan akan memakmurkan surau seperti dulu lagi.
    ***Endah Wulan Sari, mahasiswa Jurusan Pendidikan Mahasiswa FKIP UBH dan tulisan ini pernah dikirim saat pelatihan jurnalistik tingkat lanjut mengenai jurnalisme budaya yang diadakan oleh LPM Genta Andalas di Kota Bukittinggi.

    0 komentar:

    Poskan Komentar

    (c) Copyright 2010 sosial-budaya. Blogger template by Bloggermint